Yohannes: "Busana Pengantin itu Cantik dan Seksi"

Kompas.com - 09/02/2011, 16:23 WIB

KOMPAS.com - Yohannes, pemilik Yohannes Bridal yang sudah 19 tahun berkiprah di dunia perlengkapan dan desain busana pernikahan mengungkapkan mengenai cara pemilihan busana pengantin internasional.

"Ada 3 hal yang di benak kebanyakan orang mengenai busana pengantin internasional untuk wanita. Pertama, warnanya putih, mekar, dan berbuntut panjang. Ketiga hal inilah yang paling terutama ada di bayangan setiap orang. Desainer kemudian mencari cara supaya hasil akhir busananya tidak terlihat membosankan. Maka, banyak bermain pada aplikasi dan desain lainnya. Aplikasi inilah yang kemudian menjelaskan trennya," jelas Yohannes kepada Kompas Female usai konferensi pers Grand Wedding Expo ke-15, Rabu, 9 Februari 2011.

"Kalau masalah desain siluet, seperti kemben, kesan cubit-cubit di bagian bawah (jumputan), masih akan terus ada, itu kembali ke selera. Namun, apa dan bagaimana aplikasi dari aksesori pada busana pengantin itulah yang akan terus bergulir," jelas Yohannes yang memperkirakan tren aplikasi busana pengantin wanita bergaya internasional akan berganti setiap 2 tahun.

Bahan baju pengantin yang umum dikenakan menurut Yohannes antara lain; satin duchess, sifon, organza, sutera, dan tulle. "Kelima bahan itu yang paling sering digunakan dalam busana pengantin wanita bergaya internasional," jelas Yohannes yang hanya menerima pesanan busana pengantin kebaya nasional lewat pesanan.

Ketika ditanyakan bagaimana memilih busana pengantin, Yohannes mengatakan:
1. Perhatikan lokasi.
"Kalau mau cari busana pengantin, perhatikan lokasinya, apakah outdoor atau indoor. Kalau outdoor, pilihan busananya tentu harus yang simpel, ekor tidak panjang dan gaunnya tidak mekar. Umumnya, pernikahan outdoor berkonsep berbaur, jadi si pengantin akan banyak mingle dengan tamu untuk menyapa, bercengkerama, dan banyak bergerak. Sementara kalau acara pernikahan indoor, bisa lebih fleksibel, tak apa kalau mau cari busana pengantin wanita yang lebih besar."

Dari lokasi itu pun bisa dilihat juga aplikasi apa yang bisa dipadankan. Misal, untuk pernikahan outdoor yang dekat dengan air, seperti laut atau kolam renang, bisa tambahkan aplikasi yang berwarna biru muda, atau untuk lokasi di taman, bisa pilih tambahan aplikasi berwarna kehijauan. Sementara untuk indoor, tentu disesuaikan dengan warna tema dekorasi.

2. Perhatikan bentuk tubuh.
Sudah tentu peraturan universal pemilihan busana, seperti menonjolkan kelebihan dan meminimalisir kekurangan tubuh masih berlaku pada pemilihan busana internasional.

"Utamanya, calon pengantin wanita dalam memilih busana pernikahan itu supaya terlihat cantik dan seksi. Jadi, mereka pilih bagian tubuh yang ingin mereka tonjolkan. Biasanya antara bagian dada atau pinggang. Di sana pula saya banyak memainkan aplikasi, supaya perhatian ke arah sana, enggak mungkin, kan, orang memerhatikan bagian ekor busana si pengantin?" jelasnya.

Tak hanya mesti mengakomodir dengan bentuk dan ukuran tubuh besar-kurus atau tinggi-pendek tubuh, tetapi busana pengantin pun harus memerhatikan ukuran tubuh si pengantin pria. "Misalnya, si pengantin perempuan ini punya tubuh mungil, jangan mengenakan pakaian jenis mermaid (duyung), karena ia bisa terlihat 'tenggelam'. Apalagi kalau pasangannya itu jauh lebih tinggi. Lebih baik ia pilih tipe ballgown atau semi-ballgown untuk menutupi bagian bawah tubuhnya, di dalamnya, ia bisa mengenakan sepatu berhak tinggi untuk mencoba menutupi kekurangannya itu," jelas Yohannes.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Baca tentang
    Bagikan artikel ini melalui
    Oke
    Apresiasi Spesial
    Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
    Rp
    Minimal apresiasi Rp5.000
    Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
    Apresiasi Spesial
    Syarat dan ketentuan
    1. Definisi
      • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
      • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
    2. Penggunaan kontribusi
      • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
      • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
    3. Pesan & Komentar
      • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
      • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
      • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
    4. Hak & Batasan
      • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
      • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
      • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
    5. Privasi & Data
      • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
      • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
    6. Pernyataan
      • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
    7. Batasan tanggung jawab
      • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
      • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
    Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
    Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
    Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
    Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
    Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
    atau