10 Pendaki Perempuan Menuntaskan Ekspedisi

Kompas.com - 09/02/2011, 16:52 WIB

KOMPAS.com - Ketika perempuan saling menguatkan, dengan saling memotivasi dan memberikan inspirasi, yang muncul kemudian adalah pencapaian tertinggi yang memberikan harapan. Inilah dedikasi sepuluh perempuan pendaki berusia di atas 40 tahun untuk mendukung orang dengan (penyakit) lupus (odapus), yang kebanyakan adalah kaum hawa. Tim E4L (Equatorial Peaks for Lupus) sukses menuntaskan ekspedisi ketiga dengan mendaki puncak dengan salju abadi di Gunung Cayambe (5.790 meter) dan puncak berapi tertinggi di dunia Cotopaxi (5.897 meter), di Ecuador, 16-31 Januari 2011 lalu.

Tepat pada 1 Februari 2011 pukul 19.30, tim E4L mendaratkan kaki kembali di Indonesia. Misi kemanusiaan untuk siar dan penggalangan dana yang didedikasikan kepada odapus ini merupakan bagian akhir dari misi pendakian tiga puncak tertinggi di garis ekuator atau garis khatulistiwa. Puncak yang berhasil dicapai pada ekspedisi sebelumnya adalah Kala Pattar, Nepal (2006), dan Uhuru di Kilimanjaro, Tanzania, Afrika (2009).

Pada pendakian terakhir ini, rupanya terjadi perubahan rute. Sebelumnya direncanakan tim E4L akan mendaki salah satu puncak bersalju di Gunung Chimborazo (6.300 meter). Namun perjalanan ke Chimborazo terpaksa harus dibatalkan. "Banyak longsoran bebatuan di Chimborazo. Salju yang diharapkan masih ada, ternyata sudah menghilang. Medan terlalu sulit, dengan batu dan es, sehingga membutuhkan pendakian yang lebih technical. Tim tidak siap dengan pendakian technical seperti ini," salah satu pendaki, Veronica Moeliono (47), menjelaskan perubahan rute ini, dalam konferensi pers di EMAX Media Center, Plaza Semanggi Jakarta, Selasa (8/2/2011) lalu.

Sebuah bukti kekuatan perempuan
Pendakian yang ditujukan untuk mendukung odapus ini menjadi pembuktian kekuatan perempuan untuk berjuang dan bertahan di tengah kesulitan. Sama seperti penderita lupus yang bertahan dan berjuang untuk hidup dengan penyakitnya, dengan tetap menjalankan berbagai aktivitasnya dengan bantuan pengobatan.

"Tak mudah menjaga komitmen untuk menjalani tahapan persiapan dan bertahan hingga akhirnya menuntaskan ekspedisi. Sangat mudah untuk tergoda, berhenti dan menyerah. Namun motivasi pribadi yang searah dengan tim lebih menguatkan. Motivasi pribadi yang membuat saya lebih kuat adalah pelajaran berjuang untuk bertahan, yang ingin saya tunjukkan kepada anak saya. Selain juga melihat penderita lupus yang tetap bertahan menghadapi sakitnya. Motivasi pribadi dengan role model inilah yang menguatkan," jelas Ami KDM Saragih (46), ketua tim E4L.

Mencapai puncak adalah kewajiban
Rencana yang disiapkan matang nyatanya harus menyerah pada waktu. Tak semua pendaki sukses mencapai puncak gunung sesuai target waktu. "Yang menghambat pendaki dalam mencapai puncak lebih karena dibatasi waktu," jelas Veronica.

Meski begitu, semua pendaki memiliki kekuatan, daya tahan, dan kegigihan yang tinggi untuk menaklukkan gunung setinggi lebih dari 5.000 meter. "Apapun kondisinya misi untuk lupus harus dijalankan. Misi berhasil kalau pendaki sampai ke puncak. Menjalani misi ini bukan sekadar karena suka atau ingin mencapai puncak, tetapi lebih kepada kewajiban mencapai puncak," tutur Veronica, yang mengaku tak sulit menjaga komitmen menjalani pendakian, lantaran ia gemar mendaki sejak masa sekolah tingkat menengah.

Pasang surut motivasi menjalani misi sejak persiapan dirasakan banyak perempuan pendaki. Kata Ami, bahkan banyak perempuan yang gemar mendaki tak sanggup lagi melanjutkan misi sejak masa latihan fisik tiga bulan sebelum pendakian. "Tak banyak perempuan di atas 40 tahun yang masih mau mendaki. Dari 16 orang yang mendaftar, terseleksi menjadi 10 orang. Sejumlah faktor menjadi penyebabnya, salah satunya tak mendapat ijin keluarga," jelas Ami.

Kegigihan 10 perempuan pendaki ini memang sudah teruji sejak latihan fisik di Jakarta dan latihan lapangan di Gunung Pangrango, Bogor. Pelatih fisik 10 perempuan ini juga disiplin menerapkan aturan latihan 3-5 kali seminggu menjelang keberangkatan tim ke Ecuador.

Semangat berjuang dan bertahan inilah yang ingin ditularkan Yayasan Lupus Indonesia (YLI), yang bekerjasama dengan klinik kecantikan kulit Erha dan sponsor lainnya, Eiger, Synergy, dan Tupperware, untuk memberangkatkan 10 pendaki ini. Tentunya terinspirasi dari odapus yang masih tetap kuat bertahan dengan penyakitnya.

"Selain siar dan menggalang dana, berbagai kegiatan YLI juga dilakukan untuk meningkatkan awareness terutama kepada perawat dan dokter umum untuk mengenali gejala lupus dan mendeteksi lebih dini. Pengobatan lupus sifatnya jangka panjang. Jika kondisi semakin berat, obat-obatan semakin mahal. Satu kali pengobatan dengan rawat inap bisa mencapai Rp 80 juta per orang. Penggalangan dana dari ekspedisi ini mengumpulkan uang hampir Rp 50 juta dan akan terus berlanjut hingga akhir tahun. Ini adalah pembuka seluruh kegiatan lupus pada 2011," jelas Anne G Kaliey dari YPI.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau