Jakarta, Kompas
Ketua Asosiasi Gula Indonesia (AGI) Faruk Bakrie, Kamis (10/2) di Jakarta, menegaskan, tidak perlu lagi ada perdebatan soal neraca gula nasional 2011. ”Kami sudah mengevaluasi dan menghitung neraca gula 2011 apa adanya,” kata Faruk.
Evaluasi AGI pada 9 Februari menunjukkan, ketersediaan gula kristal putih (GKP) 2011 sebanyak 3,64 juta ton. Hal itu diperoleh dari stok awal tahun 876.102 ton, perkiraan produksi GKP termasuk sisa tebangan 2010 sebanyak 2,62 juta ton, impor GKP 50.000 ton, dan kapasitas tidak terpakai pabrik gula 93.492 ton. Konsumsi gula GKP 2,4 juta ton, baik konsumsi langsung rumah tangga maupun warung-warung dan pedagang makanan.
Ketersediaan gula kristal rafinasi (GKR) 2011 sebanyak 2,85 juta ton. Hal itu terdiri atas stok awal 417.964 ton, produksi industri GKR 2,28 juta ton, dan impor 158.000 ton. Konsumsi GKR 2,26 juta ton yang terdiri atas 1,65 juta ton untuk industri besar dan menengah serta 328.650 ton industri kecil. Kebutuhan gula industri kecil juga dipasok dari GKP.
Belum lagi pada minggu ketiga Februari PT Perkebunan Nusantara II mulai menggiling tebu. Pada pertengahan April Sugar Group juga mulai produksi, dan pada Mei semua pabrik gula di Jawa serentak berproduksi. ”Jangan sampai mengulang kesalahan 2008. Karena pemerintah mengandalkan data Kementerian Perdagangan dan Kementerian Perindustrian, terjadi banjir gula rafinasi di pasar,” tutur Faruk.
Ketua Umum Asosiasi Petani Tebu Rakyat Indonesia Soemitro Samadikoen menegaskan, ketersediaan gula di atas belum memperhitungkan penyelundupan gula dari perbatasan.