”Tidak selamanya pasar lesu. Saya perkirakan mulai April nanti pasar modal akan kembali bergairah. Namun, mulai sekarang kesempatan untuk lebih kreatif dalam menggaet investor harus dioptimalkan oleh manajemen Garuda,” kata analis pasar modal, Yanuar Rizky, di Jakarta, Kamis (10/2), menanggapi rencana pencatatan saham perdana PT Garuda Indonesia Tbk.
Menurut rencana, hari Jumat ini saham Garuda Indonesia akan resmi dicatatkan di Bursa Efek Indonesia (BEI).
Menteri Badan Usaha Milik Negara Mustafa Abubakar kemarin bertemu secara tertutup dengan perwakilan manajemen Garuda dan para pimpinan penjamin emisi (underwriter), yakni Bahana Securities, Danareksa Sekuritas, dan Mandiri Sekuritas.
Sesuai kesepakatan dengan pihak-pihak tersebut, Mustafa tidak mengungkapkan isi ataupun hasil pertemuan itu, terutama hasil penawaran umum saham perdana (initial public offering/IPO) Garuda.
Penjamin emisi dan pihak Garuda juga tidak ada yang bersedia berkomentar mengenai hasil pertemuan tersebut.
”Saya menghormati kesepakatan untuk tidak membuka hasilnya sebelum pencatatan di bursa. Yang jelas, para penjamin emisi berkomitmen penuh untuk menyerap semua sisa saham yang tidak terserap investor,” ungkap Mustafa.
Secara terpisah, Direktur Utama Garuda Indonesia Emirsyah Satar menegaskan, dana yang didapat akan digunakan untuk perluasan usaha, tidak untuk membayar utang.
Garuda menargetkan Rp 3,3 triliun dari penjualan saham perdananya itu. ”Semua dana Rp 3,3 triliun yang kami terima akan digunakan untuk ekspansi usaha, tidak untuk membayar utang,” kata Emirsyah seusai penandatanganan kerja sama pengendalian gratifikasi dan sistem penyingkapan aib (whistle blowing) dengan Wakil Ketua KPK M Jasin di Auditorium Garuda City, Bandara Soekarno-Hatta, Kamis.
Emirsyah juga membantah ada fasilitas khusus yang diberikan kepada beberapa pihak untuk mendapatkan saham. ”Tidak ada, tidak boleh, itu melanggar aturan Badan Pengawas Pasar Modal. Semua itu melalui underwriter,” ujar Emirsyah.
Analis pasar modal, Haryajid Ramelan, berharap kehadiran Garuda di lantai bursa mampu mendongkrak performa Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG).
Pada perdagangan saham kemarin, IHSG di BEI ditutup 3.373,64, turun 43,83 poin atau 1,28 persen.
Secara terpisah, Direktur Investasi Jamsostek Elvyn G Masassya menyatakan, saham Garuda prospektif. Ia membantah pihaknya diperintah Kementerian BUMN supaya memborong saham Garuda pada masa penawaran saham perdana.
”Tidak ada instruksi dari siapa pun. Jamsostek beli saham berdasarkan analisis fundamental dan kajian manajemen risiko dari internal Jamsostek. Ini berlaku untuk semua saham yang akan dibeli Jamsostek,” katanya.
Untuk IPO Garuda, karena melihat ada prospek jangka panjang—sesuai dengan konsep investasi Jamsostek yang horizonnya juga jangka panjang—Jamsostek memilih membeli sebanyak Rp 210 miliar.
Berdasarkan analisis internal dan ketentuan investasi, Jamsostek dapat membeli saham maksimum 5 persen free float. Jumlah Rp 210 miliar itu mencapai sekitar 4 persen free float.
”Jamsostek beli saham bukan uuntuk trading, melainkan untuk portofolio jangka panjang yang hasilnya diharapkan beberapa tahun mendatang,” kata Elvyn. (ONI/BEN/RAY)