SURYA, KOMPAS.com — Ini imbauan agar kita senantiasa berhati-hati di mana pun berada sebab kejahatan tak pernah mengenal waktu dan lokasi. Tidak hanya di kantor, jalanan, atau pusat-pusat keramaian, di rumah sendiri pun kejahatan bisa datang kapan saja.
Hal seperti ini dialami Iskandar (40), karyawan PT Pos Kabupaten Pamekasan. Saat hendak menyetorkan uang hasil simpan pinjam ke bank, pria yang sehari-hari menjabat sebagai Bendahara Koperasi Primkopos Giro Pamekasan ini justru kehilangan uang sebesar Rp 121 juta. Ia terkena gendam dua orang berjubah sehingga uang yang dibawa raib dan berganti menjadi tumpukan kertas.
Peristiwa yang menimpa Iskandar, warga Jalan Abdul Azis, Pamekasan, ini sebenarnya terjadi pada Selasa lalu, tetapi baru dilaporkan ke Kepolisian Resor Pamekasan, Kamis (10/2/2011), lantaran ia masih stres dan panik.
Menurut korban, saat itu sekitar pukul 10.00 WIB, korban mendapat tugas dari koperasi untuk menyetorkan uang simpan pinjam koperasi Primkopos Giro ke bank BNI di Jalan Kabupaten, Pamekasan.
Ketika hendak berangkat, Iskandar mendapat telepon dari Intan, anaknya, yang mengabarkan di rumah ada tamu dua laki-laki tak dikenal yang mengenakan jubah putih dan ingin bertemu Iskandar.
Tanpa curiga, Iskandar langsung pulang dengan mengendarai sepeda motornya. Uang Rp 121 juta, yang sedianya disetorkan ke bank, dia masukkan ke dalam tas dan ikut dibawa ke rumah. “Bapak mau ketemu siapa dan ada keperluan apa?” kata Iskandar setibanya di rumah karena melihat kedua pelaku sudah duduk di kursi tamu.
Dengan enteng, kedua pelaku menjawab kedatangan mereka ke rumah itu sekadar singgah. Keduanya memperkenalkan diri. Mereka bernama Ahmad dan Syaiful Ridho. "Benar Pak, kami berdua belum kenal Bapak. Kami berdua musafir, hanya numpang duduk," kata salah seorang dari mereka.
Karena Iskandar tidak mengenal dan tidak ada hal penting yang dibicarakan, ia pamit mau ke bank. Namun, salah seorang dari mereka berdiri dan menepuk tangan korban sebanyak tiga kali. "Kalau begitu, kami mau ikut bonceng ke pasar induk. Saya mau membeli makanan. Tolong kami beri uang," kata pelaku.
Bagai dihipnotis, korban mengambil uang Rp 100.000 dari dompetnya dan memberikannya kepada para pelaku. Selanjutnya korban memboncengkan salah satu pelaku menuju Pasar Kolpajung di Jalan Ronggosukowati. Pelaku lainnya dibiarkan di rumah sendirian.
Di pasar, Iskandar lalu memarkir sepeda motornya di halaman. Saat itulah pelaku meminta korban agar tas berisi uang itu ditaruh di atas setang. Si pelaku juga meminta Iskandar berhati-hati.
Setelah berpesan demikian, pelaku pergi tidak jelas ke mana. Pelaku lain, yang menunggu di rumah korban, pamit dan pulang berjalan kaki. Sekitar 10 menit kemudian, korban tersadar dan ingat bahwa dirinya saat itu hendak pergi ke BNI. Saat membuka tasnya, ia kaget karena seluruh uang Rp 121 juta itu raib berganti kertas.
“Saya tidak ingat apa-apa. Pokoknya, apa yang disuruh orang itu saya turuti saja. Tolong ya, Pak, saya jangan difoto. Saya dan keluarga sekarang masih stres memikirkan kejadian ini,” kata korban.
Ketua Koperasi Primkopos Giro Pamekasan Sumarto yang dimintai konfirmasinya mengatakan, sebelumnya ia tidak mengerti uang simpan pinjam milik koperasi yang seharusnya disetorkan ke BNI hilang karena korban terkena gendam.
Sumarto mengatakan, selama ini tugas penyetoran uang hasil simpan pinjam koperasi dipercayakan kepada Iskandar. "Saya baru tahu tadi pagi dari istrinya kalau uang itu kena gendam. Karena itu, saya meminta Iskandar segera melaporkan kejadian itu ke polisi," kata Sumarto.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang