"Rindu Purnama": Metamorfosis Muchus

Kompas.com - 11/02/2011, 23:34 WIB

Oleh Wuryanti Puspita

Selama 30 tahun pecinta film Indonesia disuguhi akting Mathias Muchus, aktor senior yang piawai bermain watak dan pandai dalam mengolah dialog.

Selama 30 tahun itu pula, masyarakat pencinta film Indonesia mengiringi metamorfosis Mathias Muchus dalam dunia seni peran yang bermuara pada berbagai penghargaan bagi insan film Indonesia.

Kini, bintang 25 judul film layar lebar tersebut menyuguhkan sesuatu yang berbeda kepada pecinta seni peran Tanah Air, dia mulai beralih profesi sebagai sutradara melalui film pertamanya "Rindu Purnama".

Film ini bercerita tentang kisah anak jalanan yang hidup di rumah singgah di pinggiran ibukota.

Kisah diawali dari tokoh Purnama (10 tahun), anak perempuan jalanan yang tinggal di rumah singgah bersama sejumlah anak jalanan lainnya. Suatu saat ia tertabrak mobil milik seorang pengusaha bernama Surya (35 tahun) hingga akhirnya dibawa ke rumah sakit dan mengalami amnesia.

Setelah keluar dari rumah sakit, Purnama dibawa ke rumah Surya oleh sopirnya, padahl sang majikan tidak menyukasi tindakan ini.

Mengetahui tidak disukai si empunya rumah, Purnama melarikan diri. Tindakan tersebut ternyata membuat Surya menyesal dan memutuskan mencari Purnama.

Pencarian tersebut mempertemukan Surya dengan Sarah (27), pemilik rumah singgah tempat di mana sebelum ini Purnama tinggal.

Akhirnya, Surya dan Sarah, ditemani anak-anak penghuni rumah singgah, bersama-sama mencari Purnama hingga tercipta kedekatan emosional diantara mereka berdua.

Kedekatan Surya dan Sarah membuat Monique (30), anak pemilik perusahaan tempat Surya bekerja, cemburu. Monique kemudian menyusun satu rencana untuk menghancurkan kebahagiaan anak-anak rumah singgah.

Surya galau ketika mendapati perusahaannya harus menggusur kawasan di mana tempat rumah singgah itu berdiri.

Problema Surya, kegigihan Sarah mempertahankan rumah singgah, dan keluguan anak-anak jalanan menjadi daya tarik film yang kuat dari sisi kemanusiaan ini.

Deretan selebritis bermain dalam film tersebut. Artis berbakat Salma Paramitha berperan sebagai Purnama, Tengku Firmansyah menjadi Surya, Ririn Ekawati memerankan Sarah, sementara Titi Sjuman menokohi Monique.

Masih ada artis-artis senior Landung Simatupang, Ratna Riantiarno, serta Edwin dan Jhody.

Film itu juga melibatkan anak-anak jalanan dan anak-anak yang berasal dari lokasi shooting.  Mereka adalah Tara Maulana, Irfansyah, Muzaki, dan Farril Ramadhan.

Sinematografi yang baik dan musik pengiring yang sesuai dengan tema serta karakter-karakter tokohnya yang menonjol, film ini tampak hidup sehingga menarik untuk disaksikan.

Beberapa dialog cerdas terutama yang dilontarkan oleh anak-anak jalanan dalam akting mereka, mengalir alami, seakan tidak dibuat-buat.

Empat lagu menjadi latar dalam film ini, yaitu "Cinta Satukan Kita" yang dinyanyikan Judika, "Teman" oleh Ashilla dan "Sah Tuboh", dan "Istigfar" dari Rafli.

Film Rindu Purnama adalah film keenam yang diproduksi Mizan Productions, setelah Laskar Pelangi, Sang Pemimpi, Garuda di Dadaku, Emak Ingin Naik Haji, dan 3 Hati 2 Dunia 1 Cinta.

Semua film produksi Mizan Productions itu mendapat sambutan baik dari penonton, selain berjaya di berbagai festival film.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau