Tanah air

Kuala Tungkal, Kehidupan di Atas Air

Kompas.com - 12/02/2011, 04:02 WIB

Irma Tambunan

Kuala Tungkal, ibu kota Kabupaten Tanjung Jabung Barat, Jambi, puluhan tahun lalu tidak berbeda dengan perkampungan laut kawasan pesisir lain. Rumah-rumah panggung pun menjorok ke laut. Kini, wajah kota itu berubah dan diisi gedung-gedung tinggi hingga lima lantai. Rumah-rumah panggung kini masih tersisa di Kampung Nelayan.

Namun, satu hal yang tidak berubah, bagian dasar bangunan masih berupa tumpukan balok kayu. Demikian pula bagian dasar jalan-jalan di kota itu.

Kawasan ini berkembang di muara Sungai Tungkal. Setiap bangunan dari kayu bulian berdiri berjejer rapat. Karena itu, kebakaran menjadi pemandangan yang terjadi hampir setiap bulan. Itulah suasana di Kuala Tungkal hingga 20 tahun lalu.

Warga setempat, Robinson (56), mengenang kebakaran besar pada 1990 yang menghanguskan pusat perbelanjaan produk impor dan pasar tradisional. Saat itu listrik padam dan terjadi kebakaran di Hotel Cahaya. Sejumlah pedagang yang baru saja menyalakan lilin berlarian untuk membantu.

Saat api di hotel padam, tiba-tiba terdengar teriakan dari tempat mereka berdagang. Rupanya ada lilin yang menyambar dinding kios. Api dengan cepat menyambar bangunan yang berdempetan. Semua kios dan barang dagangan hangus. Denyut perekonomian kawasan itu sempat terhenti setahun.

Bupati Tanjung Jabung Barat Usman Ermulan mengenang masa kecilnya di Kuala Tungkal tidak hanya dilalui oleh kerapnya musibah kebakaran. Air pasang juga setiap pekan membanjiri permukiman warga. Hal itu disebabkan sebagian besar wilayah Tanjung Jabung Barat (Kuala Tungkal dan tujuh kecamatan di sekitarnya) sejajar dengan permukaan laut.

Kuala Tungkal, yang berada di pantai timur Jambi, berjarak 135 kilometer dari ibu kota provinsi, ditempuh dalam waktu tiga jam perjalanan darat. Namun, menurut Usman, perjalanan menuju Kota Jambi pada masa kecilnya menjadi perjalanan jauh yang sangat melelahkan karena harus ditempuh sehari semalam menggunakan kapal.

”Dulu belum ada jalan aspal. Tungkal dan Jambi masih terpisah oleh laut,” tuturnya.

Menimbun kayu

Wajah Kuala Tungkal mulai berubah seiring dengan daerah yang semula masuk dalam Kabupaten Batanghari ini dimekarkan menjadi Kabupaten Tanjung Jabung pada 1965. Tanjung Jabung lalu dimekarkan pada 2005 menjadi Tanjung Jabung Barat dan Tanjung Jabung Timur. Kuala Tungkal menjadi ibu kota Tanjung Jabung Barat.

Sejak puluhan tahun lalu, jutaan meter kubik kayu ditimbun untuk menyangga kota seluas 87.000 hektar ini agar warga dapat membangun rumah dan jalan. Penimbunan tidak hanya dilakukan oleh pemerintah daerah, tetapi juga masyarakat setempat.

Pada 1985, jalan darat dibangun untuk menghubungkan Kuala Tungkal dengan daratan di Pematang Lumut. Pembangunan jalan sepanjang 50 kilometer ini sekaligus membuka akses darat ke Kota Jambi.

Syamsir Musa, yang hampir 20 tahun ikut membangun daratan di Kuala Tungkal, bercerita, untuk menciptakan daratan baru harus menimbun puluhan ribu kubik kayu di bawah tanah dengan posisi saling terjalin.

Caranya, permukaan digali di kedalaman 2-3 meter, lalu kayu dan papan kayu dirakit berjejer di dalamnya. Kayu-kayu dijalin agar saling mengikat. Hal itu bertujuan agar kayu mampu menahan besarnya tekanan dari permukaan. ”Pemasangan kayu dilakukan sepanjang 50 kilometer. Setelah itu barulah tanah ditimbun, lalu dilapisi aspal,” ujar Syamsir.

Kuala Tungkal berubah drastis pasca-pembangunan jalan Kuala Tungkal-Pematang Lumut. Pembangunan daratan kian masif. Banyak jalan dibuka. Begitu pula perkantoran, pertokoan, dan rumah. Semuanya dibangun dengan menimbun balok kayu.

Rumah tingkat

Pembangunan gedung didahului dengan menanam ratusan kayu trucuk setinggi 5 meter. Di atasnya, fondasi baru dapat dipasang. Warga meyakini, pemasangan kayu-kayu trucuk di dalam tanah dapat menyangga fondasi dan rumah dengan baik. ”Jika dilakukan penyanggaan yang benar, rumah tak akan miring atau roboh,” ujarnya.

Seluruh pembangunan membutuhkan waktu lama dan biaya yang mahal. Walaupun biaya pembangunan sangat besar, kota ini berkembang pesat. Sejak dibukanya jalan darat, Kuala Tungkal sempat tumbuh menjadi pusat transit tenaga kerja dari Pulau Jawa ke luar negeri. Ratusan penumpang setiap hari menggunakan feri dari Pelabuhan Marina di Kuala Tungkal menuju Batam. Mereka meneruskan perjalanan dengan kapal ke Singapura atau Johor Bahru, Malaysia.

Kuala Tungkal juga menjadi pusat masuknya produk-produk impor. Pada 1990-an, barang-barang bekas dari Singapura marak beredar. Tidak sedikit orang dari luar daerah khusus datang ke Kuala Tungkal hanya untuk berburu barang bekas, seperti pakaian, sepeda, kasur, jaket kulit, dan perabot rumah tangga.

Belakangan, pembangunan di Kuala Tungkal mulai menimbulkan sejumlah persoalan. Gedung tinggi untuk usaha budidaya walet marak. Setidaknya kini ada 114 gedung bertingkat tiga hingga lima yang dibangun untuk kepentingan usaha ini.

Sejumlah bangunan kini mulai miring. Di depan Pasar Tanggo Rajo, misalnya, ada dua bangunan bertingkat lima yang miring. Pemiliknya terpaksa membangun beton penghubung kedua gedung tersebut untuk menahan bangunan agar tidak semakin miring.

Persoalan lain yang muncul adalah maraknya pengeboran sumur bawah tanah. Di satu sisi, penduduk semakin padat sehingga kebutuhan air bersih sangat tinggi. Namun, di sisi lain, pengeboran yang berlangsung di kedalaman 100 meter hingga 200 meter itu mempercepat penurunan permukaan tanah.

Sekretaris Badan Perencanaan Pembangunan dan Penanaman Modal Kabupaten Tanjung Jabung Barat Ahmad Palloge mengatakan, pihaknya belum dapat mengendalikan aktivitas pengeboran sumur karena belum mampu memenuhi kebutuhan air bersih bagi masyarakat dengan cara lain.

Ia menambahkan, maraknya pembangunan gedung bertingkat mengakibatkan laju penurunan tanah di Kuala Tungkal. Hal tersebut disebabkan tanah menanggung beban yang berlebih.

 

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau