Kopi Luwak dari Gang Pekonan

Kompas.com - 13/02/2011, 04:23 WIB

Dengan hidungnya yang basah berair, Wingky mengendus buah kopi nan merah dan ranum dari piring besi yang disodorkan Gunawan. Gerakannya agresif, agak beringas dan tak bisa diam, menunjukkan tabiat hewan liar yang masih membekas pada musang yang populer disebut luwak ini.

”Ayo Wingky, ck ck ck ck,” bujuk Gunawan. Ia pun meraup buah kopi dan menyorongkannya langsung kepada Wingky yang kepalanya menjulur dari pintu pada kandang berukuran sekitar 1 meter X 1,5 meter itu.

Ritual makan buah kopi berlangsung di malam hari. Sementara siang hari musang diberi makan pisang dan kadang dikombinasi dengan asupan daging seperti bekicot dan ikan. Sekali-sekali musang pun diberi susu. Kandangnya pun harus selalu bersih karena ketika hidup liar di kebun kopi, musang hanya akan membuang feses (kotoran) pada tempat yang bersih.

Musang juga harus dikandangkan sendiri-sendiri karena cenderung saling menyerang. Bila musang luka, luka tersebut biasanya jarang sekali bisa sembuh sehingga bisa berakhir dengan kematian.

Musang yang dahulu dianggap hama karena menyerang ayam di perkampungan kini menjadi hewan berharga yang diburu. Biaya pemeliharaannya pun tak murah. Di sejumlah rumah di kawasan Way Mengaku, Liwa, Lampung Barat, mereka yang memiliki modal kecil mungkin hanya memiliki empat musang. Namun, yang bermodal lebih besar bisa memiliki 15 hingga 25 musang.

Industri rumah tangga ini sebagian besar berada di Gang Pekonan. Mereka adalah Gunawan S, mantan pengelola parkir yang kini mengemas kopinya dengan merek dagang Raja Luwak; Sapri, mantan petani sayuran, dengan merek Ratu Luwak; dan Sukardi dengan merek Kupi Musong Liwa. Di mulut gang itu masih ada lagi merek Duta Luwak Brother’s Link yang dimiliki Mega Setiawan.

Cara memelihara musang hingga pemasaran dijalankan lewat percobaan jatuh bangun. Mereka berjalan dengan yakin atas kepopuleran kopi luwak sebagai minuman yang telah mendunia. Di Jakarta, harga kopi luwak bisa mencapai Rp 89.000-Rp 100.000 per gelas. Sementara di pasar internasional harga kopi luwak bisa menembus Rp 7 juta-Rp 32 juta per kilogram.

Tak hanya diseduh langsung oleh Oprah Winfrey dalam acara talk show-nya pada Oktober 2003, pengakuan juga datang dari majalah Forbes dan Guinness Book of Records yang menyatakan kopi luwak sebagai kopi termahal di dunia.

(Lasti Kurnia/Yulvianus Harjono)

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau