Mengenal Senyawa-senyawa Cinta

Kompas.com - 14/02/2011, 14:32 WIB

Kompas.com- Tak sedikit orang yang memilih pasangannya dengan alasan karena "chemistry"-nya cocok. Sebenarnya, apa memang ada senyawa kimia yang bisa menumbuhkan benih-benih cinta di hati seseorang?

Kaitan antara perjodohan dengan senyawa kimia ini sudah ditemukan sejak 50 tahun lalu ketika peneliti Jerman, Adolf Betendandt, menemukan feromon, senyawa kimia yang dikeluarkan hewan untuk menarik pasangannya. Hewan-hewan yang sudah diteliti dan diyakini mempunyai feromon antara lain amuba, hamster, ngengat, gajah, ikan, lobster, kelinci, semut, serta kera.

Makna feromon adalah senyawa yang disekresi oleh satu individu dan diterima oleh individu lain pada spesies yang sama. Reaksi yang timbul pada lawan jenis sangat khas, salah satunya adalah perubahan perilaku, dari biasa saja menjadi "termehek-mehek."

Bagaimana dengan manusia? Para ahli masih terus meneliti namun sejauh ini mereka cukup yakin kalau kelenjar-kelenjar di dalam tubuh manusia juga mengeluarkan bau khas. Aroma yang unik antar individu ini juga dipercaya menjadi semacam sex appeal.

Sejumlah peneliti juga menegaskan, sifat feromon pada manusia mungkin tidak seperti senyawa sejenis pada hewan. Manusia memiliki kemampuan visual yang sangat baik dan sangat berpengaruh dalam menimbulkan ketertarikan pada lawan jenis. Itu sebabnya sex appeal manusia tidak bergantung sepenuhnya pada feromon, tidak seperti pada binatang.

Hormon

Jika keberadaan feromon masih kontroversial, lain halnya dengan hormon-hormon dalam tubuh kita. Penelitian menunjukkan, ketika seseorang memandang kekasih hatinya, dopamin akan merangsang bagian tertentu di otak sehingga menimbulkan kekuatan, kegembiraan dan kebahagiaan.

Menurut Helen Fisher, PhD, guru besar antropologi Rutgers University dan penulis buku Why We Love, sesuatu yang mendebarkan saat bersama pasangan akan memicu produksi hormon dopamin dan norepinephrine. Hormon ini juga akan mendongkrak testosteron dalam sistem saraf yang meningkatkan gairah seks.

Peneliti-peneliti lain menunjukkan bahwa gangguan kimiawi tubuh memang terbukti ketika seseorang jatuh cinta. Misalnya didapatkan bahwa kadar serotonin orang yang terobsesi dan kekasihnya 40 persen lebih rendah dari kadar serotonin orang normal.

Hormon lain yang sering dikaitkan dengan cinta adalah oksitosin. Menurut penelitian, orang-orang yang setia pada pasangannya sampai kakek-nenek biasanya memiliki hormon oksitosin yang tinggi. Hormon oksitosin juga akan dikeluarkan oleh tubuh ketika seorang ibu menyusui bayinya.

Keampuhan hormon oksitosin ini sudah dimanfaatkan para ahli untuk menjual produknya yang diklaim mampu meningkatkan rasa cinta.  Produk yang mengandung oksitosin dijual dengan klaim akan membuat orang yang memakai oksitosin ini terlihat lebih menarik di mata pasangannya.

Pada pria dan wanita ternyata hormon cinta ini bekerja dengan cara berbeda. Hormon ini akan membuat seorang wanita ingin merawat dan mengasuh bayinya serta membuat ikatan batin mereka menjadi kuat.

Sebaliknya pada pria, hormon testosteron dalam tubuh mereka membuat kadar oksitosin berkurang. Itu sebabnya mengapa naluri pengasuhan mereka tidak sekuat kaum hawa.

Di saat kita merasakan kenikmatan orgasme, tubuh akan mengeluarkan serotonin. Bersama dengan dopamin, serotonin bekerja meningkatkan gairah. Selain itu, serotonin juga membantu mengatur selera makan dan pola tidur, memperbaiki suasana hati, serta meningkatkan kemampuan menahan rasa sakit.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau