Bahan bakar

Kalangan UKM Jambi Khawatirkan Konversi

Kompas.com - 15/02/2011, 16:39 WIB

JAMBI, KOMPAS.com — Hingga dimulainya konversi minyak tanah ke gas, Jumat (4/2/2011), belum ada kepastian mengenai keberlanjutan pasokan minyak tanah bagi kalangan usaha kecil dan menengah di Jambi. Padahal, Pertamina sudah akan menghentikan suplai minyak tanah paling lambat awal Maret mendatang.

Perajin kayu ukir di Desa Pulau Betung, Kecamatan Pemayung, Kabupaten Batanghari, Jambi, Sulaiman, merasa khawatir akan rencana konversi minyak tanah ke gas. "Kalau sudah konversi, apakah minyak tanah bakal hilang dari peredaran. Apa solusi bagi kami yang selama ini memanfaatkan minyak tanah untuk kegiatan produksi," tanyanya.

Kekhawatiran Sulaiman sangat beralasan. Selama ini, ia memanfaatkan minimal 40 liter minyak tanah untuk proses produksi kayu ukir di bengkelnya. Bahan bakar ini dibutuhkan untuk memanaskan permukaan kayu sebelum dilakukan pengamplasan. Dalam keadaan panas, permukaan kayu menjadi lebih mudah halus.

"Kalau distribusi minyak tanah dihentikan, kami tidak tahu lagi harus bagaimana. Pemanasan kayu tidak mungkin menggunakan gas, karena belum ada alatnya," ujar Sulaiman.

Perajin batik di Kelurahan Olak Kemang, Danau Teluk, Kota Jambi, Edy Sunarto, mengatakan, ada dua pilihan bagi perajin jika minyak tanah tak lagi beredar: kembali menggunakan arang atau memanfaatkan canting elektrik. Bagi perajin batik, penggunaan kedua alat ini kurang efektif. Butuh waktu lebih lama untuk menyalakan arang. Sedangkan pada penggunaan canting elektrik, perajin harus menggunakan lilin yang berukuran kecil. Penggunaan canting elektrik saat ini belum umum digunakan perajin batik di Jambi.

Dalam kegiatan distribusi perdana paket subsidi gas elpiji di Desa Sungai Tenam, Kecamatan Muara Bulian, Jambi, Jumat (4/2/2011), Manajer Elpiji dan Produk Gas PT Pertamina Region II Sumbagsel, Chairul Adin, mengatakan, distribusi paket akan selesai pada akhir Februari. Tahap awal, sebanyak 478.000 keluarga di Jambi yang akan memperoleh bantuan paket tabung dan gas. Pihaknya juga masih akan menyalurkan tambahan paket bagi warga yang baru terdata belakangan.

Menurut Chairul, bersamaan dengan selesainya penyaluran paket elpiji, pasokan minyak tanah bersubsidi akan dihentikan. Seluruh agen minyak tanah di Jambi secara otomatis menjadi agen penyalur elpiji. Pada Maret nanti, seluruh agen tidak lagi menyalurkan minyak tanah subsidi, tetapi gas, ujar Chairul, di sela pendistribusian perdana.

Pihaknya berupaya untuk tetap memenuhi kebutuhan bagi kalangan usaha kecil dan menengah (UKM) yang memanfaatkan minyak tanah untuk kegiatan produksinya, namun dengan volume terbatas dan dengan harga ekonomi sekitar Rp 8.000 per liter. Hanya saja, mengenai volume minyak tanah yang akan dipasok, pihaknya menunggu masuknya surat pengajuan dari pemerintah daerah masing-masing. Sejauh ini belum ada permintaan dari pemda mengenai jumlah minyak tanah yang dibutuhkan kalangan UKM, tuturnya.

Kebutuhan akan minyak tanah sebagai bahan bakar dianggap vital bagi kalangan usaha kecil dan menengah di Jambi. Di wilayah Kota Jambi saja, ada sekitar 300 UKM yang masih bergantung pada minyak tanah untuk kegiatan produksinya. UKM batik misalnya, membutuhkan minyak tanah untuk proses pelilinan pada kain. Sedangkan pelaku usaha ketek (perahu mesin) membutuhkan minyak tanah dicampur solar sebagai bahan bakar sehari-hari. Sejauh ini, para pelaku usaha belum memperoleh alternatif pemanfaatan bahan bakar atas dilaksanakannya konversi minyak tanah ke gas.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau