Nasib peralihan kekuasaan

Mesir Tidak Akan Sama dengan Indonesia

Kompas.com - 15/02/2011, 18:34 WIB

WASHINGTON, KOMPAS.com — Pejabat senior Gedung Putih tengah mempelajari sejumlah revolusi global dan transisi politik yang menjadi tren dan di antaranya dijadikan upaya untuk menumbangkan rezim Hosni Mubarak di Mesir dan mengalihkan kekuasaan secara permanen ke tangan demokrasi.

Badan studi kebijakan luar negeri Presiden AS Barack Obama telah menyurvei transisi di Asia, Eropa, serta Amerika Selatan saat badan ini mempelajari kemungkinan masa depan Mesir menyusul tumbangnya kekuasaan Presiden Hosni Mubarak. Studi yang berangkat dari preseden historis ini berlangsung saat terdapat kekhawatiran di AS bahwa Ikhwanul Muslimin berupaya mengambilalih kekuasaan di Mesir dan menggunakan Republik Islam Iran sebagai kiblat.

Namun, beberapa pejabat dan analis di AS menilai pengalihan kekuasaan di beberapa negara seperti di Indonesia, Cile, serta Korea Selatan kemungkinan akan terjadi di Mesir saat militer di negara ini mempertimbangkan paradigma kekuasaan baru.

"Setiap negara unik dan satu analogi bisa berbahaya," kata Michael McFaul, pakar transisi politik demokrasi yang juga menjabat sebagai direktur Dewan Keamanan Nasional AS untuk urusan Rusia dan Eurasia. Dengan pertimbangan itu, McFaul menerangkan tinjauan historis dari transisi politik pada masa silam dapat memberikan gambaran bagi tantangan yang akan dihadapi Mesir pada masa depan.

Sejumlah analis mempelajari bagaimana beberapa negara merobohkan kekuasaan otoriter serta mengarahkannya ke periode pemerintahan sementara dalam menetapkan konstitusi, institusi, serta pemilihan umum yang demokratis. Namun, dengan adanya ketidakmenentuan kekuasaan di Mesir, masih belum diketahui apakah militer akan menelan evolusi demokrasi seperti yang diharapkan oleh sejumlah negara.

"Bisa saja kita menarik pelajaran dari sejarah selama kita tidak berasumsi nasib Mesir akan sama dengan Indonesia atau akan sama dengan Iran," kata Thomas Carothers, pengamat dari Carnegie Endowment for International Peace. Ketegasan ini disampaikan Thomas Carothers meskipun Indonesia dijadikan model oleh Washington sebagai negara yang mayoritas penduduknya Muslim dan memeluk demokrasi setelah melengserkan Orde Baru di bawah pimpinan Soeharto.

Obama yang pernah menghabiskan masa kanak-kanaknya selama 4 tahun di Indonesia berpendapat negara yang dinilai sebagai raksasa yang bangkit di Asia ini dapat dijadikan model politik setelah berhasil diubah dari "kekuasaan tangan besi menjadi kekuasaan rakyat." Dalam kunjungannya di Jakarta November tahun lalu, Obama memuji proses pemilihan presiden maupun terbentuknya legislatur serta kedinamisan sosial sipil di Indonesia - skema yang diharapkan Washington terjadi di Mesir.

Namun, terbentuknya demokrasi di Indonesia bukan merupakan satu-satunya contoh untuk dijadikan model. "Kasus peralihan kekuasaan, yang menurut saya sangat menentukan untuk diketahui juga adalah pada penghujung 1980-an di Filipina, Korea Selatan, dan Cile," kata Carothers.

Di Filipina, demokrasi terbentuk setelah pemberontakan yang disusun sipil dan militer berhasil menggulingkan kekuasaan diktator Ferdinand Marcos yang penuh dengan noda korupsi. Pemimpin Cile Augusto Pinochet yang pernah didukung oleh AS dipaksa mundur lewat referendum tahun 1988 yang mengarah ke proses pemilihan umum konstitusional. Sementara di negara sekutu AS, Korea Selatan, demonstran prodemokrasi menumbangkan rezim otoriter militer sehingga membuka jalan bagi terbentuknya pemilihan umum demokratis.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Baca tentang
    Bagikan artikel ini melalui
    Oke
    Apresiasi Spesial
    Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
    Rp
    Minimal apresiasi Rp5.000
    Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
    Apresiasi Spesial
    Syarat dan ketentuan
    1. Definisi
      • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
      • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
    2. Penggunaan kontribusi
      • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
      • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
    3. Pesan & Komentar
      • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
      • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
      • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
    4. Hak & Batasan
      • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
      • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
      • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
    5. Privasi & Data
      • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
      • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
    6. Pernyataan
      • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
    7. Batasan tanggung jawab
      • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
      • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
    Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
    Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
    Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
    Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
    Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
    atau