Pemprov DKI Harus Beri Subsidi Besar untuk Lahan Rusunawa

Kompas.com - 16/02/2011, 14:36 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com - Pengamat Perkotaan dari Universitas Trisakti, Yayat Supriyatna memaparkan kendala-kendala yang dihadapai Pemerintah Provinsi DKI Jakarta sehingga tidak mampu memenuhi kebutuhan ideal rusunawa yang mencapai 70.000 unit per tahun.

Masalah inti dari tidak mampunya pemprov memenuhi kebutuhan akan rusunawa adalah karena terbatasnya lahan di ibukota. "Rusunawa sulit mencari lahan," ujar Yayat, Rabu (16/2/2011), saat dihubungi wartawan.

Ia pun menjelaskan rusunawa yang ditujukan masyarakat kelas menegah ke bawah justru menciptakan kendala sendiri karena masyarakat tersebut berpenghasilan terbatas. "Sementara untuk buat apartemen itu lebih didahulukan karena anggarannya tersedia," ungkap Yayat.

Masalah lain, Pemprov DKI tidak bisa jadi pengembang. Sementara di pihak lain, tidak ada perusahaan swasta yang tertarik untuk membuat Rusunawa. Pasalnya, kebijakannya tidak memberi kemudahan.

Oleh karena itu, Yayat menyarankan pemprov harus memberikan subsidi yang besar untuk pencarian lahan yang tepat bagi rusunawa. "Sekarang ini pembangunan Rusunawa tidak jelas penempatannya. Letaknya juga tidak teratur. Belum lagi RTH yang tidak memadai. Jadi dibutuhkan keseriusan pemprov untuk membangun Rusunawa," tandas Yayat.

Sebelumnya, Kepala Dinas Gedung Pemerintahan Agus Subardono menyatakan bahwa pihaknya kini baru bisa menyediakan 800-1000 unit rusunawa per tahunnya. Padahal, kebutuhan ideal akan rusunawa di Jakarta mencapai 70.000 unit per tahun. Gubernur DKI Jakarta, Fauzi Bowo pun mengakui bahwa sulitnya pemprov menyediakan rusunawa lantaran tidak adanya lagi lahan di Jakarta. (Sabrina Asril)

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau