Iran Kirim Kapal Perang ke Suez

Kompas.com - 17/02/2011, 09:24 WIB

JERUSALEM, KOMPAS.com — Dua kapal perang Iran diduga akan melewati Terusan Suez, Rabu (17/2/2011) malam waktu setempat (atau Kamis pagi WIB), dalam perjalanan ke Suriah. Israel menilai hal itu sebagai langkah "provokasi" dan menyebabkan harga minyak dunia melonjak.

Pelayaran tersebut, yang menurut Iran merupakan bagian dari misi latihan, merupakan, "Sesuatu yang belum pernah terjadi selama bertahun-tahun," kata Menteri Luar Negeri Israel Avigdor Liberman. "Ini merupakan provokasi yang membuktikan bahwa rasa percaya diri dan keangkuhan Iran berkembang dari hari ke hari," kata Liberman sebagaimana dikutip CNN. "Ini terjadi setelah kunjungan Presiden Iran ke Lebanon selatan dan deklarasi-deklarasi agresifnya di sana terhadap Israel."

Harga minyak mentah untuk pengiriman Maret langsung naik 1,2 persen menjadi 85,95 dollar AS per barrel, mengikuti berita itu. Minyak mentah Brent, yang diperdagangkan di luar negeri terutama di Eropa, naik sebanyak 2,1 persen menjadi 103,31 dollar AS per barrel. Pedagang bertindak berhati-hati dengan mengatakan, laporan itu masih samar-samar. "Laporan tersebut kurang lengkap saat ini, tetapi berita tentang kapal-kapal perang Iran di Suez membuat pasar sedikit bergejolak," kata Andrew Lebow, broker komoditas untuk  MF Global.

Terusan Suez berfungsi sebagai jalan utama perdagangan internasional, yang memungkinkan kapal mencapai Eropa dan Asia tanpa harus pergi jauh-jauh mengitari Tanjung Harapan di Afrika Selatan. Jutaan barrel minyak bergerak melalui Terusan Suez setiap hari dalam perjalanan ke Eropa dan Amerika Utara.

Seorang juru bicara Otoritas Terusan Suez mengatakan, tidak ada kapal angkatan laut Iran yang telah melewati terusan itu sejak Revolusi Islam Iran tahun 1979. "Terusan Suez tidak menolak setiap kapal komersial yang mau lewat selama kami tidak dalam keadaan perang," kata Ahmed El Manakhly, anggota dewan Terusan Suez. "Untuk kapal-kapal perang yang melewati kanal, diperlukan persetujuan dari kementerian pertahanan dan kementerian luar negeri dan ini berlaku untuk semua kapal perang yang dimiliki oleh negara mana pun," tuturnya sebagaimana dikutip Telegraph.

Kementrian Pertahanan Israel mengatakan, Israel memantau pergerakan kapal-kapal Iran itu dan memperingatkan sekutu-sekutunya. Liberman telah mendesak para sekutu Israel untuk memberi perhatian. "Kami mengharapkan komunitas internasional untuk bertindak cepat dengan tekad kuat melawan provokasi Iran, yang berniat mengacaukan situasi di kawasan tersebut," katanya. Kantor Perdana Menteri Israel Benyamin Netanyahu tidak segera memberikan komentar terkait berita itu.

Pihak Washington mengatakan telah menyadari keberadaan kapal-kapal itu, tetapi tidak memiliki informasi tentang apa yang sedang dilakukan kapal-kapal tersebut.

Tujuan dua kapal itu dilaporkan ke Suriah, yang telah berperang dengan Israel tahun 1967 dan merupakan saluran utama bagi Iran untuk memasok senjata buat Hezbollah, musuh Israel di Lebanon.

Para pejabat Angkatan Laut Iran mengatakan, armada tersebut telah memulai misi pelatihan selama setahun yang membawa kepal-kapal itu ke Teluk Aden lalu ke Laut Merah dan melalui Terusan Suez ke Laut Tengah, demikian menurut kantor berita setengah resmi Fars.

Selama misi itu, para taruna angkatan laut Iran dilatih dan dipersiapkan untuk membela kapal kargo dan kapal tanker minyak negara itu. Panglima Angkatan Laut Iran Laksamana Habibollah Sayyari mengatakan, para taruna itu akan dilatih untuk melindungi kapal dan tanker yang sekarang berada di bawah ancaman serangan para bajak laut Somalia, kata Fars.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau