Mitos tentang Merapi Bisa Mati

Kompas.com - 18/02/2011, 03:28 WIB

YOGYAKARTA, KOMPAS.com — Penulis asal Perancis yang telah jatuh cinta dengan budaya Jawa, Elizabeth D Inandiak, dalam buku terbarunya berjudul Merapi Omahku menggambarkan bahwa mitos yang dipercaya masyarakat dapat musnah dan mati akibat bencana alam.

"Mitos selalu dibayangkan sebagai sesuatu yang abadi. Namun dalam kenyataannya, khususnya bagi masyarakat di Gunung Merapi, mitos itu hanya rekaan tiga atau empat generasi sebelumnya," kata Elizabeth D Inandiak dalam peluncuran buku Merapi Omahku di Yogyakarta, Sabtu malam.

Dalam buku yang didominasi warna hitam dan putih itu, penulis yang telah pula menerjemahkan "Serat Centhini" menggambarkan mitos dalam kehidupan masyarakat di Gunung Merapi berupa Beringin Putih dan Batu Gajah.

Beringin Putih itu kemudian mati akibat bencana letusan Merapi beberapa tahun lalu, sedangkan Batu Gajah kini tinggal terlihat separuh akibat letusan besar Merapi pada 2010.

Elizabeth mengaku memiliki kedekatan tersendiri dengan mitos Beringin Putih itu karena, sebelum datang ke Yogyakarta, dia telah pula menulis tentang sebuah pohon beringin pada 1991.

"Saya merasa dongeng tersebut menjadi kenyataan setelah mendapatkan cerita dari Mbah Maridjan (juru kunci Merapi) yang kemudian meninggal akibat erupsi Merapi 2010. Saya seperti terpilih," katanya.

Mitos, menurut dia, adalah sebuah kearifan lokal yang dikembangkan masyarakat untuk menghargai alam dan lingkungannya, seperti menjaga pohon agar tidak ditebang secara sembarangan karena masyarakat di Merapi menjadikan alam sebagai bagian tak terpisahkan dalam kehidupan mereka.

"Masyarakat boleh saja memercayai mitos itu. Namun, mereka juga harus bersiap apabila harus melepaskannya, seperti yang terjadi sekarang," katanya.

Ia berharap masyarakat di Gunung Merapi, khususnya yang tinggal di Dusun Kinahrejo, dapat bangkit dan terus membangun kehidupannya yang sempat luluh lantak akibat bencana erupsi besar gunung itu pada 2010.

"Masyarakat perlu menggali lebih dalam makna dari erupsi tahun lalu, untuk bisa mengerti makna apa yang sebenarnya terkandung di baliknya," katanya.

Di dalam buku Merapi Omahku, Elizabeth mendapat bantuan dari Heri Dono, seorang perupa, sehingga kisah yang disampaikan dalam kata-kata tersebut memiliki ruang imajinasi yang luas karena juga dirajut dengan seni rupa.

Heri menuangkan karyanya dalam opini yang bersifat karikaturis, katarsis, dan terkesan naif.

Sementara itu, penulis Afrizal Malna yang menjadi narasumber dalam diskusi buku Merapi Omahku mengatakan, buku ini membawanya kembali ke imaji-imaji Jawa yang sudah tergerus oleh laju perubahan zaman.

"Buku ini seperti teologi tentang gunung yang dilahirkan oleh masyarakat agraris," katanya.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman Selanjutnya
Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau