Imigran gelap

Aceh Kewalahan Tangani Pelarian Rohingnya

Kompas.com - 18/02/2011, 04:44 WIB

Banda Aceh, Kompas - Letak geografis yang relatif dekat dengan Myanmar kerap menjadikan Aceh sebagai tempat tujuan pelarian warga etnis Rohingnya asal Myanmar. Hal tersebut menyulitkan pemerintah daerah karena ketiadaan tempat penampungan dan karantina. Terlebih masalah pengungsi antarnegara bukan kewenangan pemerintah di daerah.

”Terpaksa kami menggunakan tempat di terminal pelabuhan untuk menampung mereka (pelarian warga etnis Rohingnya). Kami sudah koordinasikan hal ini dengan pemerintah daerah dan pusat untuk membantu menangani,” ujar Kepala Kantor Imigrasi Banda Aceh Wilmar Sayuti, Kamis (17/2).

Pada Rabu (16/2), sebanyak 129 warga etnis Rohingnya terdampar di perairan sebelah Utara Kabupaten Pidie, Aceh. Kini, mereka ditampung di Terminal Pelabuhan Malahayati, Krueng Raya, Aceh Besar.

Wakil Gubernur Aceh Muhammad Nazar mengatakan, kedatangan pendatang ilegal dari etnis Rohingnya ke Aceh bukan ketidaksengajaan. Dalam tiga tahun terakhir tercatat sudah tiga kali hal tersebut terjadi.

”Mereka memang sengaja lari ke Aceh. Bukan ranah pemerintah daerah sebenarnya untuk mengurusi ini karena kaitannya dengan warga negara lain. Kami menyerahkan kepada pemerintah pusat, khususnya Kementerian Luar Negeri,” kata Nazar.

Ada tujuh orang pendatang ilegal tersebut yang sakit, tiga di antaranya masih diinfus. Empat lainnya kondisinya membaik. Masyarakat sekitar lokasi penampungan membantu menyediakan baju dan makanan

Petugas dari Organisasi Internasional Urusan Migrasi (IOM) pada Kamis pagi tiba di penampungan sementara warga etnis Rohingnya. Mereka memeriksa kondisi para pelarian tersebut.

Namun, pendataan terkendala masalah komunikasi. Dari 129 orang itu, tak satu pun yang dapat berbahasa Inggris ataupun bahasa Indonesia. Ada satu orang yang bisa berbahasa melayu, tetapi itu pun hanya patah-patah. Mereka itu hanya bisa berbahasa Bangla, bahasa khas etnis Rohingnya yang sama dengan bahasa sehari-hari warga Banglades.

”Kendala komunikasi itu juga mempersulit kami mengetahui secara pasti tujuan mereka dan asal usul mereka, termasuk apa benar mereka dari etnis Rohingnya (seperti dugaan selama ini),” kata Wilmar. (HAN)

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau