Sulawesi tengah

Bentrok Antardesa Pakai Meriam Rakitan

Kompas.com - 19/02/2011, 06:43 WIB

PALU, KOMPAS.com — Warga dua desa bertetangga, Kotapulu dan Kotarindau, di Kecamatan Dolo, Kabupaten Sigi, Sulawesi Tengah, bentrok, Sabtu (19/2/2011) sekitar pukul 00.30 Wita.

Dua kelompok warga terlibat saling lempar batu di perbatasan kedua desa. Selain itu, mereka juga menggunakan meriam rakitan (dum-dum) dalam bentrokan itu.

Bunyi meriam rakitan yang melontarkan potongan besi dan pecahan kaca itu saling bersahutan di tengah bentrokan. Mereka bentrok di jalan, perkampungan, bahkan dekat kantor kecamatan di wilayah perbatasan kedua desa.

Lampu-lampu di rumah dan jalan di sekitar lokasi kejadian dipadamkan. Aksi saling lempar batu dan menyalakan meriam rakitan dapat diatasi setelah aparat desa masing-masing dibantu tokoh masyarakat setempat turun mengamankan warganya. 

Pimpinan Desa Kotarindau dan Kotapulu berdiri di tengah-tengah, lalu meminta warganya mundur. Aparat dari Polsek Dolo dan Polres Donggala juga turun untuk mengamankan situasi.

Dengan menggunakan pengeras suara, polisi bersama aparat desa meminta warga mundur. "Jangan hanya kami diminta mundur, mereka juga harus mundur," teriak salah satu warga dari salah satu kelompok yang mengendap di tempat gelap.

Usaha aparat keamanan dan kepala desa belum membuahkan hasil karena kedua kubu kembali saling lempar batu bahkan mengenai atap kantor kecamatan setempat yang berada di lokasi bentrokan.

Sekitar pukul 02.40 Wita, situasi kembali tegang karena kedua kelompok bentrok dengan memakai meriam rakitan. Bahkan, mereka memasang barikade di jalan yang berfungsi sebagai tameng dari serangan kubu lain.

Mereka juga saling melontarkan kata-kata cacian di tengah aksi saling lempar batu. Pukul 03.15 Wita, polisi yang dipimpin Kapolres Donggala AKBP I Nengah Subagia bisa memaksa mundur kedua pihak dengan melepas tembakan ke udara.

Setelah situasi aman, Kapolres bersama Camat Dolo Azhar Latjinala dan kepala desa dari desa tersebut meminta warga masuk rumah. Polisi membubarkan para warga yang masih bergerombol di jalan.

Puluhan polisi kini disiagakan di perbatasan kedua desa untuk mengantisipasi bentrokan susulan. Situasi baru dapat dikendalikan sekitar pukul 04.00 Wita.

Bentrokan itu tidak menyebabkan korban luka atau meninggal dunia. Hingga kini penyebab bentrokan belum diketahui.

Warga Kotapulu menuduh warga Kotarindau memprovokasi dengan cara melempar batu hingga mengenai kantor kecamatan setempat. Sementara itu, warga Kotarindau menuduh warga Kotapulu yang memprovokasi dengan membunyikan meriam rakitan. Kedua warga pernah bentrok pada tahun 1997 lalu seusai pertandingan sepak bola.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau