Pengidap HIV/AIDS Tak Didorong untuk Operasi Caesar

Kompas.com - 19/02/2011, 07:05 WIB

TULUNGAGUNG, KOMPAS - Ibu hamil dengan HIV/AIDS belum didorong untuk melahirkan dengan operasi caesar seperti yang disyaratkan untuk menghindarkan bayi dari penularan HIV/AIDS. Setidaknya itu terjadi di Kabupaten Tulungagung, Jawa Timur.

Hanya ada dua ibu pengidap HIV/AIDS di Tulungagung yang melahirkan lewat operasi caesar. Padahal, di daerah itu sejak tahun 2006 ada 12 ibu dengan HIV/ AIDS yang melahirkan. Akibatnya, kini muncul kasus anak dengan HIV/AIDS yang memerlukan penanganan serius.

Menurut seorang ibu hamil dengan HIV/AIDS yang ditemui di kediamannya bersama petugas pendamping dari Klinik Seruni, RSUD Dr Iskak, Tulungagung, Jumat (18/2), ia tidak memiliki cukup pengetahuan untuk meminta dokter yang merawatnya untuk melakukan operasi caesar. Ibu yang tidak bersedia disebut namanya itu kini memasuki usia kehamilan 32 minggu. Perkiraan persalinannya awal Maret 2011.

Klinik Seruni adalah klinik yang dibiayai Komisi Penanggulangan HIV/AIDS untuk pendampingan dan advokasi orang dengan HIV/AIDS dengan dana dari sumber asing.

Menurut ibu hamil itu, dalam pertemuan dengan dokter saat periksa kehamilan pekan lalu, ia ditanya apakah memilih persalinan normal atau operasi caesar. Ia mengaku, menyatakan ”terserah” pada dokter, yang disimpulkan oleh dokter bahwa ia memilih persalinan normal.

Sukarelawan dan petugas Klinik Seruni, Zainur Rohman, menuturkan, sebagian tenaga medis enggan melaksanakan operasi caesar bagi ibu dengan HIV/AIDS. ”Ada informasi, para perawat menyingkir jika harus merawat orang dengan HIV/AIDS. Padahal, pelatihan sudah mencukupi,” kata Ifada Nur Rohmaniah, sukarelawan pendamping orang dengan HIV/AIDS.

Zainur menyatakan, di kota- kota lain di Jawa Timur, seperti Jember, Jombang, Malang, dan Surabaya, sudah banyak dilaksanakan operasi caesar bagi ibu dengan HIV/AIDS yang melahirkan. Namun, dia mengakui belum mendapat data rinci.

Dukungan pemerintah

”Persoalannya lebih pada dukungan pemerintah daerah terhadap kepedulian pada pengidap dan penanggulangan HIV/AIDS. Pemerintah masih dihantui stigma terkait orang dengan HIV/ AIDS sehingga reaksi terhadap masalah itu menjadi lamban,” kata Zainur.

Sebelumnya, Kepala Dinas Kesehatan Pemkab Tulungagung Gatot D Purwanto menyatakan komitmennya pada upaya pemberian layanan operasi caesar pada ibu hamil dengan HIV/AIDS. ”Sejauh yang bersangkutan sudah terdaftar pada dinkes, sudah menjalani perawatan, dengan dana dari Global Fund, pasti bisa kami layani,” katanya. (ODY)

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Baca tentang
    Bagikan artikel ini melalui
    Oke
    Apresiasi Spesial
    Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
    Rp
    Minimal apresiasi Rp5.000
    Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
    Apresiasi Spesial
    Syarat dan ketentuan
    1. Definisi
      • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
      • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
    2. Penggunaan kontribusi
      • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
      • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
    3. Pesan & Komentar
      • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
      • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
      • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
    4. Hak & Batasan
      • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
      • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
      • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
    5. Privasi & Data
      • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
      • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
    6. Pernyataan
      • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
    7. Batasan tanggung jawab
      • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
      • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
    Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
    Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
    Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
    Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
    Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
    atau