"Kesantaian" Beragama Mulai Pudar

Kompas.com - 20/02/2011, 00:51 WIB

BOROBUDUR, JAWA TENGAH, KOMPAS.com — Indonesianis berasal dari Jerman, Berthold Damshauser, mengemukakan, "kesantaian" masyarakat, terutama Jawa, dalam hidup beragama mulai pudar sehingga sering muncul keinginan sebagian orang untuk memaksakan suatu kebenaran kepada orang lain.

"Masa sekarang ada kerisauan dan keprihatinan karena kesantaian itu mulai pudar, padahal budaya Jawa memiliki sikap menyimpan nilai positif," katanya saat diskusi dan pembacaan puisi bersama "Syahwat Keabadian: Kumpulan Puisi Friedrich Nietzsche" di Borobudur, Sabtu.

Pada kegiatan yang berlangsung di Rumah Baca Dunia Tera kawasan Candi Borobudur, Kabupaten Magelang, Jawa Tengah itu, ia mengatakan, sekitar 30 tahun lalu dijumpai beragam pemeluk agama yang hidup dengan semangat kekeluargaan.

Mereka, katanya, secara santai membina hubungan antarkerabat. Berthold yang sejak 1986 mengajar di Universitas Bonn, Jerman, itu mengemukakan, perlunya suasana "kesantaian" dalam kehidupan beragama di masyarakat itu tetap dilestarikan.

"Lestarikan sikap ’kesantaian’ dalam beragama, cari kebenaran secara santai sehingga tidak mudah menyebut kafir terkait dengan suatu perbedaan," katanya.

Pada kesempatan itu, ia menyebutkan, salah satu pemikiran Nietzsche tentang suatu kebenaran.

"Tidak ada kepastian dan tidak ada kebenaran mutlak. Nietzsche mengajak manusia bertindak dan harapan meraih prestasi tertinggi, khususnya di bidang budaya dan estetika. Manusia yang berkarya seni," katanya.

Berthold yang menerjemahkan karya puisi Nietzsche dari bahasa Jerman ke Indonesia berjudul "Syahwat Keabadian: Kumpulan Puisi Friedrich Nietzsche" itu mengemukakan, orang yang merasa memiliki kebenaran mutlak sering kali kurang toleran terhadap orang lain.

Ia menyebutkan persoalan terkait dengan dampak sikap orang yang merasa memiliki kebenaran mutlak, seperti kasus Ahmadiyah dan perusakan tempat ibadah di Temanggung belum lama ini.

"Manusia yang terlalu amat yakin bahwa dia sendiri memiliki kebenaran, bisa menimbulkan banyak malapetaka," katanya.

Peristiwa serupa, katanya, terjadi pada masa lalu terkait dengan Perang Salib.

Ia menyatakan pentingnya gagasan Nietzsche yang patut direnungkan bukan saja oleh orang Indonesia saat ini melainkan manusia di mana pun, yakni menyangkut kesangsiannya terhadap kebenaran mutlak.

"Barangkali ini berharga dalam suatu zaman yang semakin diwarnai oleh kedangkalan ide tentang dikotomi-dikotomi dan pertentangan antarbudaya dan antaragama yang mengarah kepada kekerasan," katanya.

Pada kesempatan itu, Berthold bersama penyair Magelang, Dorothe Rosa Herliany, dan penyair Solo, Sosiawan Leak, membacakan sejumlah puisi karya Nietsche.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau