Duh, Harga Rumah Naik Lagi Tahun 2011

Kompas.com - 21/02/2011, 06:24 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com - Ketua Umum Real Estate Indonesia (REI) Setyo Maharso mengakui, harga rumah cenderung naik belakangan ini. Bahkan menurutnya, tidak menutup kemungkinan tahun ini harga kembali terkerek naik.

Langkah ini diambil untuk menyiasati kenaikan harga berbagai bahan bangunan, terutama semen. "Sekitar 30 persen dari biaya pembangunan rumah itu habis dipakai untuk membeli semen," kata Setyo, akhir pekan lalu.

General Manager PT Metropolitan Land (Metland), Machpudin tidak menampik harga rumah pada tahun ini akan naik. Menurutnya, rata-rata kenaikan harga rumah sekitar 15 persen ketimbang harga tahun lalu. "Biasanya kami mengoreksi harga rumah setiap bulan," imbuhnya.

Agar kenaikan harga tidak berdampak terhadap penjualan, Metland sudah menyiapkan sejumlah trik promosi, seperti menawarkan pelbagai hadiah menarik. "Strategi ini cukup sukses," tandasnya.

PT Ciputra Development Tbk juga berancang-ancang menaikkan harga properti huniannya. Tulus Santosa, Direktur Ciputra mengatakan, kemungkinan ke depan akan ada kenaikan harga. "kenaikannya tidak lebih dari inflasi," kata Tulus.

Lonjakan harga berbagai bahan bangunan, seperti semen, besi kolom dan batu bata belakangan ini, berdampak terhadap harga rumah. Survei yang dilakukan Bank Indonesia (BI) menyebutkan, harga properti residensial pada triwulan IV-2010 meningkat pesat, terutama harga rumah tipe kecil.

Survei harga properti residensial yang dilakukan di 14 kota besar ini menetapkan indeks harga properti residensial pada triwulan IV-2010 berada pada level 136,65. Level indeks ini lebih tinggi dibanding kuartal sebelumnya.

Dari hasil survei BI ini terungkap, pemicu naiknya harga rumah adalah melonjaknya harga bahan bangunan, tingginya upah pekerja dan mahalnya biaya perizinan.

Hasil survei menyebutkan, kenaikan harga paling tinggi terjadi di wilayah Manado, yaitu sebesar 3,04 persen. Di wilayah ini, peningkatan harga terjadi pada seluruh tipe bangunan dengan peningkatan tertinggi terjadi pada rumah tipe kecil (0,96 persen).

Kondisi yang sama juga terjadi di wilayah Jakarta, Bogor, Depok dan Bekasi (Jabodebek) dan Banten. Indeks harga di Jabodebek dan Banten meningkat lebih tinggi dibandingkan triwulan sebelumnya dengan kenaikan harga tertinggi terjadi pada rumah tipe kecil (0,86 persen).

Survei juga menyebutkan, setahun terakhir, harga properti residensial mengalami peningkatan. Indeks harga properti residensial secara tahunan tercatat meningkat sebesar 2,91 persen. Level indeks ini lebih tinggi dibandingkan kenaikan harga pada periode yang sama tahun sebelumnya yang 2,31 persen.

Dilihat secara tahunan ini, kenaikan harga terjadi pada semua tipe rumah, dengan kenaikan tertinggi terjadi pada rumah tipe kecil (3,66 persen). Berdasarkan wilayah, kenaikan harga paling tinggi juga terjadi di wilayah Manado (7,28 persen), terutama pada rumah tipe kecil (16,02 persen).

Kenaikan harga juga terjadi di wilayah Jabodebek dan Banten, indeks harga properti residensial secara tahunan tercatat melonjak 2,99 persen, lebih tinggi dibandingkan dengan periode yang sama tahun sebelumnya (2,61 persen).

Harga rumah tipe kecil mengalami peningkatan paling tinggi yaitu sebesar 3,78 persen. Kenaikan harga properti residensial pada triwulan I-2011 diperkirakan akan cenderung mereda alias tidak ada lonjakan harga rumah. (Havid Vebri/Noverius Laoli/KONTAN)

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau