Korupsi

Lebih Baik KPK Datangi Megawati

Kompas.com - 21/02/2011, 13:15 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com — Ketua DPR RI Marzuki Alie berpendapat, Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) lebih baik mendatangi Ketua Umum PDI-P Megawati Soekarnoputri untuk memperoleh keterangannya seputar kasus dugaan suap cek perjalanan dalam pemilihan Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia pada 2004 yang dimenangi Miranda Goeltom.

"Saya minta KPK menghargai mantan presiden, jangan dipanggil. Kalau mau minta keterangan datanglah. Enggak banyak kepala negara. Siapa lagi kepala negara kita. Aturan timur harus dipakai," ungkapnya di Gedung DPR RI, Jakarta, Senin (21/2/2011).

Politisi Demokrat ini menolak ada upaya diskriminasi jika diperlakukan demikian. Namun, ini lebih kepada sikap menghargai Megawati sebagai mantan Presiden yang masih ada sampai sekarang.

"Ini bukan diskriminasi tapi menghargai. Jadi jangan dibilang wah, kalau misalnya orang bawah dipanggil. Presiden kita yang mantan, kan tinggal dua. Yang lain sudah KO. Siapa lagi yang mau menghargai," katanya.

Sebelumnya diberitakan, hari ini KPK memanggil Megawati untuk dimintai keterangan sebagai saksi meringankan atas permintaan politisi PDI-P, Max Moein dan Poltak Sitorus. Keduanya adalah anggota DPR periode 1999-2004 yang menjadi tersangka kasus suap cek perjalanan.

Selain Megawati, KPK juga diminta memanggil Taufiq Kiemas (suami Megawati), Theo Syafei, Tjahjo Kumolo, dan Heri Akhmadi. Tokoh lain yang diminta dipanggil sebagai saksi adalah mantan Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama KH Hasyim Muzadi, yang menjadi pasangan Megawati dalam Pemilu Presiden 2004.

Megawat tidak datang dan digantikan Sekjen PDI-P Tjahjo Kumolo dan Ketua DPP PDI-P Trimedya Panjaitan.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Baca tentang
    Bagikan artikel ini melalui
    Oke
    Apresiasi Spesial
    Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
    Rp
    Minimal apresiasi Rp5.000
    Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
    Apresiasi Spesial
    Syarat dan ketentuan
    1. Definisi
      • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
      • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
    2. Penggunaan kontribusi
      • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
      • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
    3. Pesan & Komentar
      • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
      • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
      • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
    4. Hak & Batasan
      • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
      • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
      • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
    5. Privasi & Data
      • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
      • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
    6. Pernyataan
      • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
    7. Batasan tanggung jawab
      • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
      • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
    Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
    Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
    Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
    Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
    Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
    atau