Kisah Justin Bieber Mengguncang Dunia

Kompas.com - 21/02/2011, 23:57 WIB
  • Judul Buku: Inspiring True Story Justin Bieber Never Say Never

 

  • Penulis: Chas Newkey-Burden

 

  • Penerjemah: Melody Violine

 

  • Penerbit: Ufuk Press, Jakarta

 

  • Cetakan: Pertama, November 2010

 

  • Tebal: 367 halaman
  • Peresensi: Muhammad Itsbatun Najih*

KOMPAS.com — Kemunculan Justin Bieber dalam panggung musik skala internasional telah menyita perhatian pecinta musik di dunia, khususnya para penggemarnya yang didominasi oleh remaja kaum hawa. Di usia yang masih belia, Justin telah menyihir dunia lewat suara emasnya. Walau kepopulerannya atas jasa besar situs video Youtube, itu semua tetap diawali dengan sebuah kerja keras dari Justin sendiri.

Justin dilahirkan dari keluarga yang tidak terlalu kaya. Pada awal-awal kelahirannya, ibunya, Pattie, sudah harus menjadi orangtua tunggal untuk Justin karena bercerai. Hal ini membuat kondisi finansial keluarga cukup mengkhawatirkan.

Bakat hebat Justin dalam tarik suara sudah terlihat sejak kecil. Apalagi ini didukung oleh kondisi keluarganya yang telah akrab dengan dunia musik. Ibunya adalah seorang anggota penyanyi pada bagian pelayanan gereja. Ayah Justin juga merupakan pemain gitar sekaligus seorang penyanyi. Neneknya merupakan pianis andal.

Tak cuma suaranya yang merdu. Di usia belia, Justin sudah akrab dengan berbagai peralatan musik, seperi drum dan gitar. Pada usia empat tahun, Justin sudah akrab dengan drum pribadinya yang merupakan hibah dari para jemaat gereja karena kagum terhadap bakat seorang Justin.

Perjalanan Justin bermusik diawali dengan narasi yang cukup menyentuh ketika dia prihatin akan perjuangan ibunya yang bekerja keras demi terpenuhinya kebutuhan mereka berdua. Dalam diri Justin, tak ada pikiran untuk bermanja-manja. Justin justru bertekad untuk ikut memperingan beban ibunya tersebut.

Diikatkan gitar pemberian ibunya yang terlalu besar untuk ukuran tubuh Justin pada bahunya, penyanyi muda ini kemudian menuju jalanan kota Stratford dan mulai mengamen. Rupanya selalu ada hasil yang dia dapatkan dari kebulatan tekadnya itu. Orang-orang yang lalu lalang di jalanan kota tersebut begitu terkesima dengan suara bocah tiga belas tahun ini.

Kesempatan menuju pintu kesuksesan semakin terbuka lebar ketika ada kompetisi menyanyi di Stratford. Berbekal kepercayaan diri, Justin berusaha berani mengikuti kompetisi tersebut. Di kontes, ia benar-benar tampil lepas. Justin bergerak lincah dan berhasil menggiring penonton untuk bernyanyi bersama.

Teramat sayang, penampilan memukaunya tersebut harus diganjar dengan hanya menduduki peringkat ketiga. Meskipun kecewa, dia sangat terlihat dewasa ketika menyodorkan tangannya untuk bersalaman dan mengucap selamat kepada pemenang pertama kompetisi itu.

Kekalahan Justin itu segera akan berganti dengan ketenarannya yang tidak ia duga-duga jalannya. Video-video bernyanyi selama kompetisi yang direkam oleh ibunya itu kemudian diunggah ke Youtube. Unggahan video yang pada awalnya hanya sebatas ditujukan untuk keluarga dan teman dekat Justin perlahan-lahan terus mendapat kunjungan yang intens dan semakin meningkat.

Justin begitu terkejut ketika angka kunjungannya melesat lebih dari 500 kunjungan. Padahal, keluarganya tak sampai 100 orang dan angka tersebut terus bergerak melesat semakin besar.

Ketenaran terus perlahan tumbuh. Beberapa pengunjung bahkan meminta Justin untuk menyanyikan lagu lainnya sesuai permintaan penggemarnya itu. Kondisi yang menguntungkan ini tentu tak disia-siakan oleh Justin untuk terus mengunggah video-video bermusiknya yang lain.

Suatu hari, Scoot Braun, Direktur SB Projects, yang bergerak pada industri film, televisi, dan musik di Amerika Serikat, tak sengaja menemukan video-video musik milik Justin di Youtube. Ia langsung terkesima dan cepat-cepat menawarkan kerja sama kepada Justin.

Braun seperti halnya dengan penggemar Justin (beliebers) lainnya teramat terpesona dengan anak belasan tahun ini. Tak menyia-nyiakannya, Braun kemudian menghubungi Justin dan ibunya untuk meyakinkan keduanya bahwa dia siap membawa Justin menjadi bintang terkenal.

Kini, Justin ditangani oleh orang yang profesional yang siap untuk merekam suara emas Justin. Ini kali pertama Justin melakukan rekaman seperti itu.

Lagu pertama "One Time" dari album My World langsung menyentak dan menggebrak dunia musik Amerika. Single tersebut mulai menjadi hit di kawasan Amerika. Hebatnya, di negaranya sendiri, Kanada, Justin menempatkan dirinya sebagai penerima anugerah platinum atas lagunya tersebut.

Berada di puncak kariernya seperti sekarang ini tidak membuat Justin berubah dari watak asalnya. Sikap rendah hati dan ungkapan rasa terima kasih selalu ia perlihatkan kepada orang-orang yang selama ini menjadi aktor di balik kesuksesannya. Itulah yang selalu ia lakukan di setiap acara musiknya atau kicauan di Twitter-nya. Kerendahhatian dan tidak bersikap congkak inilah yang semakin memunculkan karisma dari seorang Justin muda.

Nah, sebelum Justin benar-benar menggebrak penggemarnya di Jakarta pada bulan April nanti, rasanya buku ini telah cukup menjadi pegangan wajib untuk setidaknya mengenal lebih mendalam dari sisi pribadi, perjuangan, sampai kesuksesan yang telah Justin capai. Selamat membaca beliebers!

* Pencinta buku, tinggal di Yogyakarta

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau