Seniman Tisna Sanjaya (51) membawa tiga kontainer sampah dari Cigondewah, Kota Bandung, Jawa Barat, ke Singapura. Sampah plastik, kandang burung bekas, dan air limbah pabrik tekstil dari Sungai Cigondewah akan ia rangkai menjadi karya seni berbalut kritik tajam di National University of Singapore, 17 Februari-30 Maret 2011.
”Sampah itu sengaja tidak dicuci. Jangan Indonesia saja yang bau sampah, sesekali perlu juga mencium bau sampah di Singapura,” kata Tisna di Bandung, akhir pekan lalu.
Pengajar di Fakultas Seni Rupa dan Desain Institut Teknologi Bandung ini mengatakan, kehadirannya di National University of Singapore murni atas undangan pihak penyelenggara. Penyelenggara kepincut karya seni sampah yang telah diciptakannya. Sebelumnya, Tisna mengolah karya instalasi dari abu sisa kebakaran kawasan buku Palasari di Bandung, lumpur Lapindo, hingga sampah arang hasil pembakaran sampah Cigondewah.
Menurut Tisna, ia sengaja mengambil tema sampah Cigondewah karena sampah dan limbah sudah meracuni warga. Tidak hanya berbahaya bagi kesehatan, sampah dan limbah juga menghilangkan kekhasan dan hubungan sosial masyarakat.
”Sawah dan penggilingan padi menjadi pabrik pengolahan biji plastik. Lapangan bermain pun habis dijadikan tempat menjemur plastik limbah pabrik,” katanya.