Libya

Evakuasi Warga Asing Makin Sulit

Kompas.com - 22/02/2011, 18:09 WIB

KAIRO, KOMPAS.com — Sekarang "neraka" baru itu bernama Libya. Kekerasan negara yang mencekam mempersulit evakuasi warga asing dari negeri itu. Menteri Luar Negeri Mesir Ahmed Aboul Gheit, seturut catatan AP dan AFP, Selasa (22/2/2011) dalam konferensi pers mengatakan, "Mengenai Libya timur, landas pacu bandara Benghazi telah hancur. Tidak mungkin penerbangan EgyptAir atau penerbangan lain mendarat di bandara itu."

Sejumlah negara mengungsikan warga mereka dari Libya menggunakan pesawat dan kapal laut. Turki, misalnya, karena kejadian tersebut menggunakan kapal laut untuk membawa pulang warganya.

Puluhan orang diperkirakan tewas di ibu kota Libya, Tripoli, Senin, akibat tentara keamanan yang setia kepada pemimpin Libya, Moammar Khadafy, menyerang pengunjuk rasa yang menuntut diakhirinya rezim yang telah berkuasa selama empat dasawarsa. Saluran televisi Al Jazeera melaporkan, sejumlah pesawat dan helikopter digunakan untuk melawan pengunjuk rasa di Tripoli.

Menurut organisasi internasional, sebanyak 500 orang telah tewas dan ribuan orang  mengalami cedera oleh pasukan pemerintah sejak unjuk rasa melawan Khadafy dimulai pada 15 Februari 2011.

Saluran televisi di Libya pada Senin menyiarkan pidato putra Khadafy, Saif Al Islam, yang mengatakan bahwa pemerintah akan berjuang hingga peluru terakhir. Namun, dia juga menawarkan reformasi dan memperingatkan perang saudara dalam pidatonya yang dijuluki "kebingungan" oleh beberapa pengamat.

Sekretaris Jenderal Perserikatan Bangsa-Bangsa Ban Ki Moon pada Senin menyerukan kepada Pemerintah Libya untuk segera menghentikan penggunaan kekuatan militer dalam melawan para pengunjuk rasa. Unjuk rasa massal yang terkenal telah menyebar ke sejumlah negara Arab dan telah menghasilkan keruntuhan rezim yang berkuasa di Mesir dan Tunisia.

Belakangan, sekelompok perwira tinggi Libya menyerukan agar militer bergabung dengan rakyat untuk menggulingkan penguasa Moammar Khadafy, menurut laporan Al Jazeera pada Selasa. Para perwira militer mendorong agar tentara segera turun ke Tripoli.

Wilayah udara Libya ditutup sementara pada Senin malam pekan lalu, tetapi dibuka kembali pada Selasa dini hari. Hal itu memungkinan pesawat angkut Angkatan Darat Austria berpenumpang 62 warga Eropa lepas landas.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Baca tentang
    Bagikan artikel ini melalui
    Oke
    Apresiasi Spesial
    Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
    Rp
    Minimal apresiasi Rp5.000
    Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
    Apresiasi Spesial
    Syarat dan ketentuan
    1. Definisi
      • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
      • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
    2. Penggunaan kontribusi
      • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
      • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
    3. Pesan & Komentar
      • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
      • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
      • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
    4. Hak & Batasan
      • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
      • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
      • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
    5. Privasi & Data
      • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
      • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
    6. Pernyataan
      • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
    7. Batasan tanggung jawab
      • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
      • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
    Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
    Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
    Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
    Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
    Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
    atau