Khadafy Dituding Membantai

Kompas.com - 23/02/2011, 02:33 WIB

Tripoli, Selasa - Situasi di Libya, Selasa (22/2), kian tak menentu karena korban kerusuhan dan kekerasan militer terus berjatuhan. Komunitas internasional menuding, bahkan elite di lingkaran dalam rezim pemimpin Libya Moammar Khadafy bersaksi, Khadafy telah melakukan pembantaian massal.

Bandar udara di Benghazi, kota terbesar kedua Libya, rusak berat akibat amuk massa. Otoritas setempat menutup penerbangan dari dan ke kota yang dihuni 2 juta jiwa itu. Informasi ini diungkapkan Menteri Luar Negeri Mesir Ahmed Aboul Gheit, Selasa di Kairo, setelah ia mendapat laporan dari Egypt Air.

Penutupan terjadi setelah bentrokan berdarah antara militer dan massa antipemerintah, yang menewaskan 60 orang lebih, Senin. Dalam aksi itu massa merusak semua simbol Khadafy serta membakar bangunan dan mobil.

Aksi serupa melanda Tripoli. Senin malam, helikopter militer meraung-raung di atas Tripoli dan menembak secara serampangan. Penembak jitu bertebaran di atap bangunan, juga untuk menghalau massa. Muhammad Abdul-Malek, seorang aktivis oposisi, mengatakan, aksi itu bertujuan mencegah arus massa dari luar masuk ke Tripoli.

Korban yang tewas dan terluka terus berjatuhan. Aktivis hak asasi manusia di Swiss dan Amerika Serikat mengatakan, jumlah korban tewas di seluruh Libya hingga Senin telah lebih dari 233 orang. Dengan bertambahnya 60 korban tewas terbaru akibat insiden Senin malam, korban tewas diduga kuat telah mencapai lebih dari 300 orang. Sulit mendapatkan konfirmasi pasti karena sulitnya akses telepon ke Libya.

Khadafy, Selasa, buru-buru tampil di televisi. Penampilannya itu untuk menegaskan kepada publik Libya bahwa ia tidak melarikan diri ke luar negeri. Ia tetap di Libya sebagai pemimpin dan dengan penampilan itu ia ingin menegaskan dirinya pemimpin sejati, tegar, dan teguh hati. Khadafy juga membantah dirinya melakukan pembantaian.

Pembantaian

Kekacauan dan kekerasan di negeri kaya akan sumber daya minyak bumi itu juga diwarnai pengunduran diri para pejabat dalam negeri dan diplomat senior atau duta besar Libya di beberapa negara dan Perserikatan Bangsa-Bangsa. Ada juga duta besar dan staf duta besar yang tegas memutuskan hubungan kerja dengan rezim Khadafy.

Selasa, para duta besar dan diplomat meminta negara-negara di dunia ikut membantu penyelesaian kemelut politik di Libya dengan menghentikan apa yang mereka sebut sebagai ”pembantaian demonstran antipemerintah” atau genosida. Mereka mengecam aksi kekerasan militer yang tidak manusiawi dalam menghadapi demonstran.

Duta Besar Libya yang mengundurkan diri itu antara lain Ali al-Essawi (India), AH Elimam (Banglades), dan Ali Adjali (AS). Duta Besar Libya untuk Liga Arab di Kairo Abdel-Moneim al-Houni sudah mengundurkan diri pada Minggu lalu.

”Rezim Khadafy adalah sampah sejarah karena ia mengkhianati bangsa dan rakyatnya,” kata Houni dalam sebuah pernyataan. Ia menuntut Khadafy, komandan dan ajudannya diadili karena melakukan ”pembunuhan massal”.

Mereka mengundurkan diri sebagai protes atas kekerasan militer di negaranya. Kata Essawi, pesawat militer digunakan untuk mengebom dan menembak warga di Tripoli dan Benghazi. Elimam mundur karena anggota keluarganya tewas ditembak. ”Saya menyerukan kepada lima anggota tetap Dewan Keamanan PBB, sekarang saatnya untuk bersikap adil dan jujur melindungi warga Libya,” kata Essawi di New Delhi. ”Jatuhnya Khadafy adalah keharusan bagi orang-orang di jalan-jalan (di Libya) itu,” katanya lagi.

Khadafy tampaknya telah kehilangan dukungan dari setidaknya satu kelompok besar diplomat, beberapa unit militer dan duta besar sendiri, termasuk duta besar Libya di Washington, Ali Adjali. Wakil Duta Besar Libya untuk PBB Ibrahim Dabbashi menuduh Khadafy yang telah memerintah lebih dari 41 tahun itu sudah melakukan genosida terhadap rakyatnya sendiri.

Diplomat atau staf kedutaan Libya di Malaysia, Jepang, dan Australia juga memutuskan hubungan dengan rezim Khadafy. Mereka mengecam kekerasan yang mematikan rakyat sipil.

Beberapa pejabat di dalam negeri juga mengundurkan diri. Salah satunya adalah Menteri Kehakiman Libya Mustafa Abdel-Jalil sebagai protesnya terhadap kekerasan militer yang telah ”menggunakan kekuatan berlebihan” dalam menghadapi para demonstran tidak bersenjata.

Mengecam

Sekretaris Jenderal PBB Ban Ki-moon kepada wartawan di Beverly Hills, California, mengatakan telah terjadi penindasan di Libya. Melalui juru bicaranya, Ban mengatakan, terjadi ”pelanggaran serius hukum kemanusiaan internasional” oleh Khadafy.

Menlu AS Hillary Clinton meminta Khadafy ”menghentikan aksi pertumpahan darah yang tidak bisa diterima” dan dunia sedang menonton kekerasan Libya ”dengan peringatan”. Perdana Menteri Inggris David Cameron, saat berada di Kairo, menyebut kekerasan rezim Khadafy ”mengerikan”.

Komunitas internasional terus saja mengecam kekerasan militer terhadap rakyat sipil Libya. Tidak hanya mengecam, mereka juga telah melakukan evakuasi, dan ada juga yang bersiap-siap mengevakuasi warganya dari Libya.

Ulama berpengaruh Libya, Yusuf al-Qaradawi, mengeluarkan fatwa, setiap prajurit Libya yang bisa menembak mati Khadafy telah ”membersihkan Libya dari dia”. Sedangkan seorang akademisi, pakar Libya, mengatakan, dia yakin rezim Khadafy akan runtuh. ”Tidak seperti jatuhnya rezim di Tunisia dan Mesir, ini akan runtuh melalui perang saudara,” kata Lisa Anderson, Rektor Universitas Amerika di Kairo.

(AP/AFP/RERUTERS/CAL)

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau