Lumpur panas

Limbah Lumpur Mulai Meluap ke Sungai

Kompas.com - 23/02/2011, 20:17 WIB

PALU, KOMPAS.com - Limbah semburan lumpur berbau belerang di Kabupaten Tolitoli, Sulawesi Tengah, kini sudah tumpah ke sungai karena endapan di sekitar lubang lumpur tersebut sudah mencapai ketinggian hingga 30 centimeter.

"Limbahnya sudah mengalir ke sungai, karena kebetulan jarak sungai dengan pusat semburan hanya sekitar 10 meter," kata Sekretaris Kecamatan Dondo Iksan Jamri, yang dihubungi dari Palu, Rabu (23/2/2011).

Dia mengatakan, pusat semburan berada di perbatasan wilayah tiga desa yakni Desa Malala, Tinabogan, dan Malulu, Kecamatan Dondo, Kabupaten Tolitoli.

Menurut Iksan, pusat semburan tersebut berada di perkebunan rakyat sehingga jauh dari pemukiman penduduk.

Jarak pusat semburan dengan pemukiman penduduk sekitar 1,5 kilometer, sehingga masyarakat belum terganggu.

"Tetapi kami sudah menghimbau agar tidak terlalu mendekat ke pusat semburan karena khawatir bau yang keluar dari lubang tersebut mengandung racun," kata Iksan.

Endapan lumpur yang keluar dari perut bumi tersebut sudah mencapai ketebalan hingga 30 centimeter sehingga lumpurnya sebagian mengalir ke Sungai Detengon. Muara sungai ini berada di Desa Tinabogang hingga tembus ke laut.

Meski limbahnya sudah mengalir ke sungai tetapi tidak mengakibatkan air di sungai tersebut keruh karena debit air di sungai itu cukup tinggi dengan kedalaman berkisar 35 centimeter dan lebar empat meter.

Jumlah titik semburan saat ini berkisar 20 titik yang tersebar di beberapa tempat namun dalam diameter kecil.

Hanya satu di antara titik semburan tersebut diperkirakan berdiameter sekitar 80 centimeter.

Iksan mengatakan, lubang tersebut menyemburkan lumpur panas disertai asap hingga ketinggian 20 centimeter.

Hingga kini warga belum menemukan adanya ikan atau udang yang mati di sungai akibat limbah lumpur tersebut.

Semburan tersebut mengeluarkan lumpur yang panas dan bau busuk seperti bau belerang.

"Lumpurnya cukup panas, telur ayam saja bisa matang dalam waktu dua atau tiga menit," kata Iksan.

Semburan lumpur tersebut ditemukan dua warga pada Selasa pagi. Iksan mengatakan, semburan tersebut diperkirakan sudah ada empat atau lima hari sebelumnya ditandai dengan matinya tumbuhan di sekitar lumpur.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau