Jakarta, Kompas
”Kami harus melihat konteks pasar masing-masing untuk membandingkan kinerja perusahaan-perusahaan, baik yang tergabung dalam SLF (Sun Life Financial) maupun antargrup. Namun, saya jamin, SLF Indonesia pantas terpacu atas hasil kinerja SLF India dan China,” kata Presiden SLF Asia Dikran Ohannessian di Jakarta, Rabu (23/2).
SLF Asia membawahkan beberapa anak perusahaan, termasuk SLF Indonesia yang berdiri sejak 1995. Selain di Indonesia, terdapat pula SLF India, China, Hongkong, dan Filipina.
Dikran mengungkapkan, pasar di Asia tumbuh sedemikian pesat dalam beberapa tahun terakhir. Dari segi aset, SLF Indonesia bertambah sekitar 4,5 persen tahun lalu, hanya kalah dari China yang mengalami pertumbuhan sekitar 9,1 persen dan India sekitar 7,4 persen.
SLF Indonesia menyediakan aneka produk perlindungan dan pengelolaan kekayaan, antara lain asuransi jiwa, pendidikan, kesehatan, dan hari tua. Menurut Presiden Direktur SLF Indonesia Bert Paterson, per 31 Desember 2010, risk based capital (RBC) SLF Indonesia mencapai 304 persen, di atas ketentuan minimum pemerintah 120 persen, dengan total aset Rp 4,45 triliun.
Kinerja SLF Indonesia juga didukung kinerja PT CIMB Sun Life (perusahaan patungan CIG Berhad yang merupakan bagian dari CIMB Group, CIMB Niaga, dan SLF Inc), dengan pendapatan premi (unaudited) pada 2010 sebesar Rp 320 miliar.
Dalam mengembangkan bisnisnya, SLF Indonesia didukung 4.110 agen di 41 kantor pemasaran di 31 kota di Tanah Air. Sebagai inovasi, perusahaan itu juga didukung lebih dari 200 tenaga telemarketer.