MENTAWAI, KOMPAS.com — Mata wanita itu tampak sembab. Langkahnya cepat menghampiri kerabatnya yang menunggu di rumah petak bekas kediaman karyawan PT Minas, di KM 37, Pagai Selatan, Kepulauan Mentawai.
Sembari terisak dan setengah berteriak, ia langsung memeluk erat kerabatnya. Air matanya kembali pecah, menggelinding melewati guratan pipinya yang terbakar sinar matahari.
Nama wanita itu adalah Sitta Simorangkir. Ia baru saja datang dari Dolok Sanggul, Humbang Hasundutan, Sumatera Utara, sekitar empat bulan setelah tsunami meluluhlantakkan Dusun Purorogat Selatan, Oktober tahun lalu. Dalam kejadian tersebut, kedua orangtua dan adik bungsunya menjadi korban tewas.
Sitta sedih karena dirinya sama sekali tidak bisa melihat wajah orang-orang yang dicintainya untuk terakhir kalinya. Bahkan, sampai sekarang, ia juga tidak mengetahui di mana orangtua dan adiknya itu dikuburkan.
Pasalnya, pascatsunami, Kepulauan Mentawai betul-betul terisolasi. Tahun lalu perjalanannya harus berhenti di Pelabuhan Bungus, Kota Padang, Sumatera Barat, lantaran tidak ada kapal yang berani melaut. Ombak pada waktu itu cukup tinggi. Tak pelak, ia kembali ke Dolok Sanggul karena uang sakunya menipis.
Kali ini, ia kembali ke tanah kelahirannya itu. Namun, kondisinya berbeda. Orang tua dan adik bungsunya sudah tidak ada. "Amang, inang. Kalian tak ada lagi yang lihat aku. Terus aku bagaimana. Siapa yang memberangkatkan kalian. Suara tawa si bungsu tak bisa aku dengar lagi. Dengarkan aku, amang, inang," katanya sembari terisak.
Perjalanan Sitta menuju Mentawai tidak mudah. Ia harus tiba tepat waktu ke Pelabuhan Bungus, supaya tidak ketinggalan kapal Ambu-ambu dengan tujuan Dermaga Sikakap, Pagai Utara. Kalau perlu ia menunggu, jauh sebelum kapal itu melepaskan jangkar. Itu pun harus melihat kondisi cuaca. Sebab, keberangkatan kapal bisa saja ditunda jika ombak sedang tidak bersahabat. Jadwal keberangkatan kapal itu pun hanya satu kali dalam sepekan.
Butuh waktu 12 jam perjalanan dengan kapal Ambu-ambu menuju Dermaga Sikakap. Sesampainya di dermaga itu, Sitta harus melanjutkan perjalanan dengan perahu untuk menyeberang selat menuju Pagai Utara. Kemudian, ia harus menggunakan transportasi darat menuju KM 37, tempat warga Perorogat itu direlokasi.
Namun, transportasi darat yang bisa mengantarnya sampai KM 37 itu merupakan barang langka. Ia harus menunggu tumpangan angkutan yang berangkat ke sana. Kalau tidak ada angkutan, mungkin ia terpaksa menyewa kendaraan dengan ongkos sangat mahal.
Makanya, Emil Sababalat, Kepala Dusun Purorogat Selatan, sangat mengharapkan adanya sarana transportasi umum yang memadai untuk menghubungkan satu dusun ke dusun lainnya di masing-masing pulau di Kepulauan Mentawai.
"Kalau ada transportasi memadai, saya yakin masyarakat Mentawai bisa mandiri. Perekonomian masyarakat pasti berjalan. Tetapi, dengan catatan, harus ada fasilitas jalan raya yang juga memadai," tegasnya.
Menurut Emil, sejak dulu pemerintah setempat tidak pernah berupaya untuk membangun jalan raya. Padahal, jalan raya dapat menggerakkan perekonomian masyarakat. Jalan raya yang ada di Pagai Selatan sepanjang 44 kilometer itu, dulu dibangun oleh PT Minas, sebuah perusahaan kayu yang kini sudah tutup.
Emil, mewakili warganya mengharapkan agar pemerintah mendengarkan aspirasinya. Jika pemerintah merasa keberatan, ia dan masyarakat dari Dusun Asahan dan Maurou yang direlokasi ke KM 37 pascatsunami itu, hanya meminta supaya jalan sepanjang 4 kilometer menuju dusun lama di dekat pantai segera dibangun. Dengan begitu, mereka bisa kembali bekerja sebagai petani kopra.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang