Perlawanan di libya

Mereka yang Memenangkan Hati Nurani

Kompas.com - 25/02/2011, 10:40 WIB

KOMPAS.com — Tentara sering dicitrakan sebagai setengah manusia setengah robot. Mereka sengaja dilatih menjadi mesin perang, yang bisa membunuh musuh seefektif mungkin dan melaksanakan apa pun perintah atasan, tak peduli perintah itu benar atau salah secara kemanusiaan.

Namun, apa yang dilakukan sebagian tentara Angkatan Udara Libya beberapa hari belakangan ini menunjukkan hati nurani mereka belum mati di tengah situasi kritis yang mereka hadapi.

Dalam kondisi terdesak revolusi rakyat, yang berkobar makin panas di seluruh Libya, pemimpin negara itu, Kolonel Moammar Khadafy, seolah kehilangan akal sehat dan hati nurani. Tanpa pikir panjang, ia perintahkan pasukannya membubarkan demonstran dengan segala cara.

Salah satu perintah paling gila adalah memerintahkan pesawat-pesawat tempur AU Libya menembak dan mengebom demonstran sipil dari udara. Dua pilot senior AU Libya mendapat tugas mengerikan itu, Senin (21/2/2011).

Mereka menerbangkan dua Mirage F1, pesawat pemburu canggih buatan Perancis, dari sebuah pangkalan udara dekat ibu kota Tripoli. Tujuan mereka adalah Benghazi untuk mengebom dan menembak demonstran di kota terbesar kedua di Libya itu.

Namun, kedua pilot berpangkat kolonel itu tahu benar misi mereka tak akan bisa dibenarkan dengan alasan apa pun. Di tengah jalan, mereka memutuskan melawan perintah atasan dan memilih membelokkan pesawat mereka ke Malta, negara anggota Uni Eropa yang hanya berjarak 340 kilometer dari garis pantai Libya.

Cerita mereka kepada otoritas Malta, yang menahan mereka hingga kini, membuka mata dunia akan kebiadaban rezim di Libya. Salah satu pilot itu bahkan meminta suaka politik di Malta.

Langkah dua pilot senior di AU Libya ini ditiru pilot lain dua hari kemudian. Hari Rabu (23/2/2011), sebuah pesawat Sukhoi Su-22 berkursi ganda mendapat misi serupa dengan dua Mirage tersebut, yakni mengebom kota Benghazi untuk membubarkan demonstran.

Namun, dua awaknya, yakni pilot Abdessalam Attiyah al-Abdali dan kopilot Ali Omar al-Khadhafi, memutuskan menolak perintah zalim itu dengan cara dramatis.

Mereka mengaktifkan kursi pelontar darurat di pesawat tempur buatan Rusia itu dan melarikan diri setelah berhasil mendarat dengan selamat menggunakan parasut. Pesawat mereka biarkan jatuh berkeping-keping di sebuah gurun dekat kota Brega, 710 kilometer sebelah timur Tripoli.

Menurut Farag al-Maghrabi, saksi mata yang melihat kedua pilot dan reruntuhan pesawat, kopilot Sukhoi tersebut berasal dari suku yang sama dengan pemimpin Libya, Khadafy.

Para pilot ini sadar betul, sasaran mereka bukanlah pasukan musuh yang mengancam kedaulatan negara, melainkan warga sipil tak bersenjata, yang sekadar sedang mengekspresikan pendapat dan aspirasi mereka.

Para demonstran itu adalah rakyat Libya yang sudah muak dengan rezim diktatorial yang bercokol di negeri mereka lebih dari 40 tahun. Tugas tentara adalah melindungi rakyat, bukan membasmi mereka.

Perintah Khadafy untuk membunuh rakyatnya sendiri dengan cara-cara demonstratif, seperti menggunakan pesawat tempur dan bom, tersebut mengejutkan dunia. Bahkan, Presiden Iran Mahmoud Ahmadinejad, yang sering dikritik pihak Barat karena bersikap represif terhadap kaum oposisi di Iran, berkomentar keras.

”Tak bisa dibayangkan seseorang bisa membunuh dan membombardir warga negaranya sendiri. Bagaimana bisa para perwira itu diperintahkan untuk menembak rakyat mereka sendiri dengan senapan mesin dan tank?” ucap Ahmadinejad.

Pembangkangan juga dilaporkan terjadi di Angkatan Darat Libya sejak Senin. Para tentara ini memilih berpihak kepada demonstran di Benghazi dan bertempur melawan rekan-rekan mereka sendiri yang masih loyal kepada Khadafy.

Jumlah pembangkang di kalangan diplomat pun terus bertambah. Duta Besar Libya untuk Indonesia, Singapura, dan Brunei Darussalam Salaheddin M El Bishari mengaku tak bisa lagi menerima tindakan tentara yang membunuh warga sipil tanpa ampun.

”Mereka menggunakan senjata berat, jet-jet tempur, dan tentara bayaran untuk melawan rakyat sendiri. Ini tak bisa diterima,” ujar El Bishari.

Hati nurani memang tak pernah bisa dibungkam. (Reuters/AFP/AP/DHF)

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Baca tentang
    Bagikan artikel ini melalui
    Oke
    Apresiasi Spesial
    Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
    Rp
    Minimal apresiasi Rp5.000
    Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
    Apresiasi Spesial
    Syarat dan ketentuan
    1. Definisi
      • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
      • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
    2. Penggunaan kontribusi
      • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
      • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
    3. Pesan & Komentar
      • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
      • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
      • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
    4. Hak & Batasan
      • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
      • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
      • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
    5. Privasi & Data
      • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
      • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
    6. Pernyataan
      • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
    7. Batasan tanggung jawab
      • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
      • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
    Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
    Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
    Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
    Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
    Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
    atau