Mafia pajak

Gayus Bantah Punya Aset di 4 Negara

Kompas.com - 25/02/2011, 14:22 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com — Tersangka Gayus Halomoan Tambunan, mantan pegawai pajak Departemen Keuangan, membantah memiliki harta di empat negara. Menurut Gayus, ia pergi ke empat negara bukan untuk mengamankan aset.

"Sama sekali enggak benar. Aset di empat negara enggak ada. Empat negara itu sebenarnya cuma jalan-jalan saja," ucap Gayus di Bareskrim Polri, Jumat (25/2/2011).

Gayus hadir di Mabes Polri untuk dikonfrontasi dengan istrinya, Milana Anggraeni, serta dengan Agung dan Ari terkait kasus dugaan pemalsuan paspor.

Gayus juga membantah memiliki pom bensin seperti yang dikatakan Yunus Husein, Ketua PPATK. Gayus mengaku tak tahu mengapa isu ia memiliki aset di empat negara mencuat. "Motifnya apa saya juga enggak paham," ucap dia.

Jadi harta Anda cuma Rp 74 miliar dan Rp 28 miliar? "Iya, itu sudah semua. Polisi juga sudah bongkar (safety box)," jawab pria yang mengenakan batik cokelat itu.

Seperti diberitakan, pemerintah tengah mengusut dugaan adanya harta Gayus di luar negeri melalui kerjasama mutual legal assistance (MLA). Kerja sama itu akan dimulai pekan depan.

Dugaan Gayus memiliki aset di luar negeri muncul setelah pelesiran Gayus ketika masih ditahan di Rutan Mako Brimob Kelapa Dua, Depok, terbongkar. Gayus diketahui pelesiran bersama istrinya ke Makau, Singapura, dan Malaysia. Menurut Yunus, ada satu negara lain yang diduga tersimpan aset Gayus, yakni Amerika Serikat.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Baca tentang
    Bagikan artikel ini melalui
    Oke
    Apresiasi Spesial
    Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
    Rp
    Minimal apresiasi Rp5.000
    Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
    Apresiasi Spesial
    Syarat dan ketentuan
    1. Definisi
      • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
      • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
    2. Penggunaan kontribusi
      • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
      • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
    3. Pesan & Komentar
      • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
      • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
      • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
    4. Hak & Batasan
      • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
      • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
      • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
    5. Privasi & Data
      • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
      • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
    6. Pernyataan
      • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
    7. Batasan tanggung jawab
      • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
      • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
    Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
    Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
    Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
    Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
    Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
    atau