Kisruh sepak bola

Sanksi FIFA Awal Pembenahan PSSI

Kompas.com - 28/02/2011, 04:03 WIB

Jakarta, kompas - Pemerintah diharapkan konsisten dalam membenahi sepak bola nasional dan tidak takut pada ancaman sanksi FIFA untuk PSSI. Sanksi dari FIFA justru menjadi awal tahapan membenahi kepengurusan PSSI, pembinaan usia muda, dan kompetisi di tingkat nasional.

”Pemerintah jangan takut terhadap ancaman sanksi FIFA dalam rangka menyelamatkan sepak bola Indonesia dan PSSI,” kata Apung Widadi dari komunitas Save Our Soccer (SOS), Minggu (27/2).

Apung yang juga peneliti pada lembaga Indonesia Corruption Watch menilai, pemerintah melalui Kementerian Pemuda dan Olahraga harus segera mengambil alih PSSI dari tangan-tangan yang menginginkan status quo.

Langkah pertama yang harus diambil pemerintah, lanjut Apung, adalah segera membentuk tim seleksi independen untuk pemilihan ketua umum PSSI dan menggelar kongres PSSI secara transparan dan akuntabel.

Hal senada dikemukakan Koordinator Suporter Macan Muria Sutejo yang menilai pemerintah harus mengintervensi PSSI. Kelompok pendukung klub Persiku Kudus itu menilai, jika tidak ada intervensi, pembersihan di dalam tubuh PSSI tidak akan terjadi.

Intervensi pemerintah terhadap PSSI ini akan menjadi salah satu agenda Emergency Meeting FIFA di Zurich, Swiss, pada 1 Maret. Jika FIFA menilai telah ada intervensi pemerintah, PSSI berpotensi dibekukan. PSSI mengirimkan Suryadharma Tahir yang juga anggota Komite Etik FIFA dalam pertemuan itu.

Sekretaris Gabungan Suporter Rembang (Ganster) yang mendukung PSIR Rembang, Ahmad Aviv Mahmudi, mengatakan, keputusan Komite Banding tepat meskipun terkesan mencari aman.

Keputusan itu harus ditindaklanjuti dengan pemilihan bakal calon ketua dan wakil ketua PSSI lagi. Komite Pemilihan juga harus dirombak total karena terkesan berpihak kepada rezim Nurdin Halid.

Menurut Aviv, jika situasi tidak berubah, pemerintah harus turun tangan, mengingat pembinaan, pengaturan, dan pengawasan tertinggi ada di tangan pemerintah.

”Kalau pemerintah tetap tidak bisa, biarlah kami yang turun tangan. Gerakan yang saat ini terjadi baru gerakan awal,” ujar Aviv menegaskan.

Ketua Umum Persigo Gorontalo Adhan Dambea mendesak Nurdin Halid mundur dari pencalonan ketua umum PSSI. Seandainya Nurdin tetap terdaftar dalam bursa pencalonan sementara calon lainnya, George Toisutta, gagal, Persigo tidak akan menggunakan hak suaranya.

”Tidak ada yang luar biasa di masa kepemimpinan Nurdin Halid. Lebih baik dia mundur saja dengan besar jiwa,” kata Adhan, Minggu di Kantor Wali Kota Gorontalo. (APO/HEN/RAY/ANG)

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau