Penerbangan

Lion Minta Jaminan Investasi di Indonesia

Kompas.com - 28/02/2011, 09:22 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com — PT Lion Mentari Airlines dan grup meminta jaminan kepada pihak-pihak terkait untuk berinvestasi di Indonesia.

Gagalnya rencana membangun hanggar senilai 10 juta dollar AS di areal Bandara Sam Ratulangi, Manado, Sulawesi Utara, membuat maskapai berkonsep low cost carrier (LCC) tersebut sangat berhati-hati.

Tawaran dari pihak PT Angkasa Pura (AP) I untuk membangun hanggar di wilayah Bandara Sultan Hasanuddin, Makassar, Sulawesi Selatan, pun belum disambut. Direktur Utama Lion Rusdi Kirana mengatakan, sebenarnya tidak masalah membangun lokasi perawatan pesawat di Makassar. "Persoalannya adalah bagaimana agar urusannya kelar dan siap dengan Gubernur (Sulawesi Selatan) supaya kalau ada masalah kami dianggap mengingkari janji. Kami tidak mau masuk ke konflik seperti ini. Kami mau berbisnis membangun hanggar untuk perawatan," kata Rusdi di Jakarta.

Rusdi mengatakan, pihaknya becermin pada gagalnya pembangunan hanggar di Manado, tempat Lion telah membebaskan lahan seluas 12 hektar dengan harga Rp 7 miliar. Saat itu Gubernur Sulawesi Utara telah setuju dan meresmikan, bahkan dengan direksi lama PT AP I juga telah menandatangani nota kesepahaman (MOU). Namun, direksi baru AP I tidak menyetujui pola kerja sama tersebut dan AP I meminta share sebesar 51 persen saham.

Hal itu membuat Lion akhirnya mundur meski telah membebaskan tanah. Padahal, kata Rusdi, rencananya setelah membangun hanggar bernilai 10 juta dollar AS, Lion akan berinvestasi hingga 40 juta dollar AS. "Masalahnya sekarang, tidak ada kejelasan dari pihak AP I. Padahal sudah ada MOU dan kami sudah beli tanah. Sudah ada peresmian, tiba-tiba tidak bisa. Nah, di Makassar ada jaminan tidak? Proyek di Manado itu sudah dua tahun tidak jelas. Kalau ke Makassar, berapa tahun lagi?" tanya Rusdi.

Makassar, dia menjelaskan, sebenarnya sangat prospektif bagi Lion. Sebagai salah satu hub Lion, Bandara Sultan Hasanuddin menjadi pusat penerbangan di Indonesia timur. Bahkan, setiap hari Lion menerbangkan sebanyak 40 pesawat ke berbagai daerah.

Setelah gagal menyepakati pembangunan hanggar di Manado, Dirut PT AP I Tommy Soetomo menawarkan kerja sama pembangunan perawatan pesawat di kawasan lama Bandara Sultan Hasanuddin.

Dia membantah menghalangi niat Lion membangun hanggar di Manado. Menurut dia, Lion lebih cocok membangun hanggar di Makassar. Gubernur Kalimantan Tengah Teras Narang juga telah menemui Rusdi dan menawarkan lokasi hanggar di Palangkaraya.

Rusdi menyatakan pikir-pikir karena secara bersamaan Malaysia pun menawarkan lokasi di Subang, Johor Bahru, dengan harga sewa cukup murah, bahkan dalam 40 tahun lokasi tersebut bisa jadi hak milik Lion. Menanggapi hal tersebut, Direktur Jenderal Perhubungan Udara Kementerian Perhubungan Herry Bakti Singayudha Gumay meminta Lion dan PT AP I bertemu kembali serta duduk satu meja untuk membahas bersama masalah tersebut.

Herry tetap berkeyakinan bahwa Lion tidak akan berinvestasi ke luar negeri. "Jadi begini, kan memang harus bekerja sama dengan BUPU (Badan Usaha Pelabuhan Udara), jadi ya berkoordinasi dahulu. Lion dan AP I harus duduk bersama membahas ini," katanya.

Dia menegaskan, AP I tidak berhak memiliki saham Lion dalam penyelenggaraan tempat perawatan pesawat. "Koordinasi harus ada. Kepemikan saham tidak ada haknya, tetapi bentuknya kerja sama, misalnya berupa konsesi," ujar Herry.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau