Busway

"Contra-Flow" Diragukan Para Sopir

Kompas.com - 28/02/2011, 16:21 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com — Kemacetan parah yang kerap terjadi di jalan-jalan Ibu Kota mengakibatkan banyak pengguna jalan menyerobot busway. Di sisi lain, keteraturan jadwal bus transjakarta pun semakin dituntut mengingat tumpukan calon penumpang yang sering terlihat di shelter-shelter busway sejak dihentikannya sejumlah jalur bus reguler.

Pemerintah Provinsi DKI Jakarta terus mencoba berbagai kemungkinan demi kelancaran transportasi ini. Salah satu upaya yang sedang terus dijajaki adalah kebijakan contra-flow (lawan arah) jalur busway. Apakah contra-flow bisa diterapkan?

Bambang, pengemudi transjakarta di Koridor II, Pulogadung-Harmoni, mengaku tidak ada masalah dari pihak pengemudi jika sistem baru diberlakukan. Menurut dia, masalah justru akan timbul bagi pengguna jalan lain.

"Cukup berbahaya karena banyak (pengguna jalan) yang akan bingung," terang Bambang saat ditemui di shelter Pulogadung, Senin (28/2/2011).

Pengemudi dan pengendara motor di Jakarta, menurut dia, masih jauh dari tertib. Hal ini bisa berakibat fatal bila contra-flow diberlakukan.

Ia mencontohkan, kebiasaan melanggar aturan lampu merah. Si pelanggar biasanya sudah mengantisipsi arah kendaraan di jalur lain. Namun, dengan adanya contra-flow, potensi kecelakaan semakin terbuka.

Hal yang sama dibenarkan oleh rekannya, Ndang. Menurut dia, kesulitan bagi pengendara lain adalah faktor kebiasaan umum.

"Orang sudah biasa melirik ke kanan kalau ingin belok dan memotong busway. Itu enggak bisa diubah begitu saja, kan udah refleks," ujarnya, menjelaskan potensi bahaya contra-flow.

Pendapat berbeda diungkapkan Sukana. Ia menilai, ada juga masalah lain yang bisa mereka alami, yaitu mesin bus transjakarta yang rawan mogok.

"Nah, kalau mogok di jalur contra-flow, apalagi saat macet, bagaimana?" katanya.

Senada dengan Sukana, Ibnu pun mempertimbangkan kesulitan lainnya. Menurut Sukana, jalur sempit atau padat kendaraan seperti di Kramat Jati, Jatinegara, dan Roxi, sangat sulit bagi penerapan contra-flow.

"Mending berlakunya buat koridor yang banyak jalan protokolnya saja, seperti jalur kami ini (Pulogadung-Harmoni)," katanya memberi masukan.

Sunarto, pengemudi lainnya, tidak terlalu bergairah menanggapi pembicaraan teman-temannya. Menurut dia, kalau ingin busnya lancar, pemerintah tak perlu mencari alternatif yang membingungkan dan memakan biaya tambahan.

"Seriusi saja sterilisasi jalurnya. Kalau benar serius, jadwal transjakarta pasti tidak ada masalah," katanya.

Adapun Pemprov DKI sendiri, sesuai pernyataan Wagub Prijanto, saat konferensi pers di Balaikota, Jakarta (25/2/2011), sedang menggodok kebijakan contra-flow di busway. Tidak tertutup kemungkinan, Pemprov DKI Jakarta akan mengirimkan sejumlah tenaga ahlinya untuk melakukan studi banding di negara yang menerapkan contra-flow ini, seperti Turki.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman Selanjutnya
Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau