Disorot Masuk Rumah Mulan, Dhani Rampas Kaset Juru Kamera

Kompas.com - 01/03/2011, 15:24 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com — Pentolan Dewa 19, Ahmad Dhani, dilaporkan ke Polsek Kebayoran Lama, Jakarta Selatan, Senin (28/2/2011) malam, lantaran diduga terlibat kekerasan dan perampasan materi liputan terhadap juru kamera Global TV, Noviandi Kurniawan. 

Kejadian tersebut bermula ketika Yani, reporter Global TV, bertugas meliput di Pondok Indah, Jakarta Selatan, kediaman Mulan Jameela yang baru-baru ini dikabarkan melahirkan seorang bayi.

"Dhani meminta paksa kaset dan kamera tim Global TV setelah juru kamera Global TV mengambil gambar kedatangan mobil Alphard yang ditumpangi Dhani ke rumah Mulan Jameela. Dan posisi campers (juru kamera) sendiri di luar pagar rumah Mulan," ujar Yani di Jakarta, Selasa.

Sementara itu, menurut Noviandi, mantan suami vokalis, pencipta lagu, sekaligus produser Maia Estianty itu dengan arogan meminta kaset di dalam kamera milik Noviandi. "Mas Dhani teriak, 'Jangan di-record, ambil kasetnya'," kata Noviandi. "Setelah itu langsung orangnya Dhani meminta kaset saya. Sampai situ saya masuk ke mobil lalu Mas Dhani mendesak meminta kasetnya," lanjutnya.

Dalam aksi itu, Yani sempat menghalang-halangi Dhani yang naik pitam. "Itu sudah dihalangi Mbak Yani, sampai akhirnya Mbak Yani telepon ke kantor bilang kasetnya mau diambil Mas Dhani," ujar Noviandi.

Karena kondisi semakin tak kondusif, akhirnya Noviandi menyerahkan kaset hasil liputannya kepada Dhani. "Saya lihat kondisi sudah tidak memungkinkan karena Mbak Yani, driver saya, dan saya sudah lemas, akhirnya saya kasih juga kasetnya," kata Noviandi.

Namun, setelah kaset diserahkan, lanjut Noviandi, bos Republik Cinta Management (RCM) itu terlihat masih kurang puas. Dhani lantas berupaya meminta kamera yang dipegang Noviandi. "Kamera juga diminta, lampu kamera saya malah sempat diambil. Sementara dia juga sudah ambil kunci mobil kami," terang Noviandi.

Karena terus-terusan kontak fisik dengan Dhani dan beberapa orang kepercayaannya, akhirnya Noviandi, Yani, dan sopirnya terpaksa mengunci diri di dalam mobil. "Kami inisiatif mengunci diri di dalam mobil. Tapi tidak bisa melarikan diri karena kuncinya diambil Mas Dhani," ungkap Noviandi.

Akhirnya, suasana tegang mulai mencair setelah petugas kepolisian Kebayoran Lama tiba di lokasi untuk mendamaikan kedua pihak. "Kami mengunci diri kurang lebih 30 menit sampai ada polisi dari Polsek Kebayoran Lama yang datang," kata Noviandi.

Dari kontak fisik tersebut, Noviandi mengalami luka ringan di tubuhnya. "Saya langsung visum ke Rumah Sakit Medika Permata Hijau. Sebelah lengan kiri luka ringan dan memar, leher kanan ada bekas cakaran, tetapi yang nyakar siapa saya enggak tahu, terus bahu baju kanan robek," terangnya.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau