Bambang: Polri Utamakan Kekuatan

Kompas.com - 01/03/2011, 19:20 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com — Pembentukan Detasemen Anti-Anarki oleh Polri dinilai tidak tepat. Langkah itu menunjukan Polri lebih mengutamakan cara-cara represif dibanding preventif untuk mengatasi aksi anarki seperti yang terjadi akhir-akhir ini di beberapa daerah.

"Ini menunjukkan orientasi kerja Polri pada force, kekuatan, bukan pada pencegahan. Mengatasi terus semacam pemadam kebakaran," ucap Bambang Widodo Umar, pengamat Kepolisian, ketika dihubungi Kompas.com, Selasa (1/3/2011).

Bambang menjelaskan, salah satu faktor gagalnya Polri mencegah aksi anarki selama ini adalah kurangnya peran intelijen serta pembina masyarakat. Oleh karena itu, kata dia, Polri seharusnya memperkuat peran kedua fungsi itu.

"Banyak faktor yang menjadikan masyarakat mudah marah, mudah emosi. Polri seharusnya jangan mengatasi masalah itu di permukaan saja, tetapi di akarnya. Maka yang perlu diperhatikan yakni intelijennya harus kuat, pembinaan masyarakatnya harus intensif dan menyentuh kepada masyarakat," ujarnya.

Bambang menambahkan, pembentukan satuan baru akan membingungkan Polri lantaran saat ini sudah ada satuan yang biasa menangani kerusuhan, seperti Brimob dan Samapta. Selain itu, kata dia, pembentukan satuan baru akan membuat struktur organisasi Polri semakin gemuk.

"Jadi, satuan-satuan yang sudah ada saja yang diperkuat. Itu sudah cukup. Polri bertindaklah secara sistematis, jangan menunggu kejadian. Intelijen harus masuk terlebih dahulu mendapatkan data akurat, lalu masuk pembina masyarakat memberikan edukatif pada masyarakat bagaimana penyelesaian masalah," ujar Bambang.

Seperti diberitakan, Polri tengah melatih para personel yang akan ditempatkan di Detasemen Anti-Anarki. Personel akan dipersenjatai mulai dari gas air mata hingga senjata api. Langkah itu diambil pasca-dua aksi anarki, yakni penyerangan jemaah Ahmadiyah di Cikeusik, Banten, dan kerusuhan di Temanggung, Jawa Tengah.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau