Jajanan di Sekolah Rawan Zat Berbahaya

Kompas.com - 02/03/2011, 10:15 WIB

Kompas.com — Anak mana yang tidak tertarik melihat jajanan yang dikemas dengan menarik, tampilan warna mencolok, ditambah dengan rasanya yang manis dan gurih. Akan tetapi, faktanya banyak jajanan anak di sekolah yang tidak memenuhi syarat kesehatan.

Menurut hasil pemantauan Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) bersama Kementerian Pendidikan Nasional dan Institut Pertanian Bogor (IPB) terhadap kantin di lebih dari 170.000 sekolah ditemukan hanya 0,9 persen kantin yang sehat.

Sementara itu, hasil pencuplikan BPOM pada Januari sampai April 2010 di 128 sekolah dasar di Jakarta menunjukkan, sekitar 21 persen mengandung bahan berbahaya.

Ini berarti lebih banyak jajanan yang dijual di sekitar sekolah yang tidak memenuhi standar mutu makanan, misalnya mengandung bahan tambahanan makanan berbahaya.

”Bahan berbahaya yang paling sering ditemukan adalah zat pengawet, pewarna atau MSG dalam jumlah berlebihan,” kata Ir Chandra Irawan, MSi dari Akademi Kimia Analisis Bogor, dalam acara mengenai jajanan sehat yang diadakan oleh Yupi, produsen permen, di Jakarta, Selasa (1/3) .

Pemerintah memang memperbolehkan penggunaan bahan tambahan makanan, termasuk pengawet. Hal ini sesuai dengan peraturan Menteri Kesehatan Nomor 722 Tahun 1988. Ada 16 jenis pengawet yang diperbolehkan, antara lain MSG (monosodium glutamate) dan pemanis buatan. Tetapi, penggunaannya harus di bawah batas yang ditentukan.

Untuk jajanan anak di sekolah, menurut Chandra, zat kimia berbahaya yang paling sering ditemukan adalah zat pewarna Rhodamin B dan metanil yellow. Kedua bahan itu sebenarnya adalah bahan kimia yang biasanya dipakai untuk industri tekstil dan plastik.

Untuk makanan, Rhodamin B dan metanil yellow sering kali dipakai untuk mewarnai kerupuk, makanan ringan, terasi, kembang gula, sirop, biskuit, tahu, sosis, es doger, cendol, atau manisan buah. Makanan yang diberi zat pewarna ini biasanya berwarna lebih mencolok dan memiliki rasa agak pahit.

”Zat-zat pewarna yang dipakai dalam makanan itu baru bisa didegradasi oleh enzim tubuh setelah seminggu. Bayangkan jika setiap hari dikonsumsi lama-kelamaan bisa terakumulasi dan memicu kanker,” katanya.

Selain bahan tambahan pangan, konsumen sebaiknya juga mewaspadai bahaya lain dalam makanan. Misalnya, produk kedaluwarsa, makanan yang dimasak terlalu gosong, atau menggoreng dengan pemanasan minyak suhu tinggi dan dipakai berulang kali.

”Cara menggoreng dengan memakai minyak goreng yang sama secara berulang kali bisa menimbulkan radikal bebas dalam tubuh,” katanya menambahkan.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau