Jelang nyepi

Pawai Ogoh-ogoh Diserbu Penonton

Kompas.com - 04/03/2011, 22:25 WIB

DENPASAR, KOMPAS.com - Pawai ogoh-ogoh di Kota Denpasar, Jumat petang, yang mengambil tempat di perempatan Patung Catur Muka, disesaki ribuan penonton yang tidak bergerak dari posisinya sekalipun hujan gerimis mengguyur.

Belasan ogoh-ogoh dengan rancangan yang artistik dan dilengkapi pergelaran seni tari sebagai latar tema menyedot perhatian para penonton itu.

Setiap tahun Kota Denpasar menyelenggarakan pawai ogoh-ogoh pada malam pengerupukan sebagai bentuk apresiasi kepada seni yang juga menjadi roh pelaksanaan Hari Suci Penyepian.

Gubernur Bali, Mangku Pastika, bersama istrinya, Ayu Pastika, menyaksikan pawai ogoh-ogoh itu dari satu lokasi di sudut rumah dinasnya yang juga terletak di lingkungan Lapangan Puputan Badung itu.

Kali ini, empat kecamatan yang berada dalam lingkungan Kota Denpasar mempersembahkan banjar-banjar yang ogoh-ogohnya terpilih untuk ditampilkan dalam pawai itu.

Salah satunya adalah Banjar Dauh Tangluk, Desa Kesiman, yang mengusung ogoh-ogoh bertemakan pertarungan Bhuta Kala dengan seorang ksatria.

Tiap ogoh-ogoh dipanggil panitia pelaksana dari keempat penjuru secara bergantian. Karena begitu antusias untuk bisa melihat ogoh-ogoh yang diarak memakai rangka dari bambu, sebagian penonton merangsek sampai ke tengah lingkaran tempat Patung Catur Muka berada sehingga menghalangi prosesi pengarakan.

Sanggar Tari Putra Kencana menjadi pembuka kontingen dari salah satu desa dalam lingkungan Puri Kesiman itu.

Seni tari yang ditampilkan juga cukup menyita perhatian penonton karena terdapat atraksi penyemburan minyak tanah untuk membentuk nyala api.

Ogoh-ogoh dari banjar itu berkeliling dua kali di perempatan Patung Catur Muka dan digoyang ke berbagai penjuru sehingga kesan pertarungan di antara ksatria dan Bhuta Kala itu bisa lebih realistik.

Seorang perempuan penari dalam balutan busana tradisional keemasan dan bermahkotakan milik ksatria ikut dalam rangka bambu ogoh-ogoh yang dibawa sekaha (paguyuban) teruna-teruni Banjar Batan Buah, Desa Kesiman.

Ogoh-ogoh raksasa bertangan dan bermuka empat dengan taringnya yang panjang dan wajah menyeramkan bertajuk Chandra Bairawa diunggulkan mereka.

Ogoh-ogoh merupakan persinifikasi dari Sang Bhuta Kala alias kekuatan gelap di dunia yang harus dikuasai manusia dengan seizin Ida Sang Hyang Widi Wasa.

Pada masa lalu, seusai diarak keliling kampung dan diputar-putar di tiap perempatan jalan, ogoh-ogoh itu langsung dibakar pada malam pengerupukan.

Banjar Pekambingan lain lagi, karena mereka mengusung ogoh-ogoh Tirta Amerta, yang mengilustrasikan pertarungan Garuda Jatayu dengan satu naga besar berwarna kemerahan. Tajuk mahkota naga itu ditusuk cakar sang Jatayu sampai hampir menembus kepalanya.

Di sela-sela pawai ogoh-ogoh yang juga menarik bagi sebagian turis mancanegara di Bali, terdapat beberapa hal yang berlatar supranatural saat seorang pemeran Rangda tidak sadarkan diri dalam proses pemasangan topeng lambang kekuatan jahat itu di kepalanya.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau