JAKARTA, KOMPAS.com — Kekesalan Linda Kurniawati (33) dan Budi Kuncahya (39), orangtua Maureen (8 bulan), korban dugaan malpraktik di RS Awal Bros, akhirnya memuncak
Setelah tidak mendapatkan iktikad baik dari pihak rumah sakit, Budi dan Linda melaporkan dokter RS yang diduga menyebabkan dua ruas jari kelingking Maureen putus. "Sudah kami laporkan ke Polda Metro Jaya, dari Polda dilimpahkan ke Polres Tangerang," ungkap Linda, Sabtu (5/3/2011), saat dijumpai Kompas.com di Perumnas II, Cibodas Baru, Tangerang, Banten.
Linda mengaku kesal lantaran dokter RS yang selama ini merawat Maureen tampak lepas tangan dengan kondisi buah hati satu-satunya tersebut. "Dulu dia sangat care sama Maureen sering telepon-teleponan untuk konsultasi. Sekarang telepon kami tidak pernah diangkat dan sudah ganti nomor sepertinya," keluh Linda.
Selain itu, pihak manajemen rumah sakit pun juga tampak tak mau bertanggung jawab dan mengakui kesalahannya. "Tidak ada pengakuan salah, mereka hanya bilang itu adalah risiko tindakan dan dampak yang di luar dugaan. Mudah sekali bicaranya," tukas Linda.
Oleh karena itu, Linda dan Budi melaporkan dokter RS pada tanggal 7 Februari ke Polda Metro Jaya. "Sekarang sedang diusut Polres Tangerang, Senin (7/3/2011) saya diminta memberikan keterangan ke Polres," tandasnya.
Sebagaimana yang diberitakan, Maureen adalah korban dugaan tindak malpraktik di RS Awal Bros pada bulan November 2010. Akibat diberikan cairan keras, yakni bicnat di infusnya, tangan Maureen membengkak, membiru, hingga bernanah. Dokter bedah plastik sempat menyarankan jari Maureen diamputasi.
Namun, saran itu akhirnya tidak dilakukan hingga dokter bedah plastik menjalani operasi pertama untuk mengangkat nanah di punggung telapak tangan Maureen. Setelah operasi itu, jari di tangan kanan Maureen semakin mengerucut sampai akhirnya pada bulan Desember 2010 dua ruas kelingking Maureen terputus.
Ketika berusaha mengonfirmasikan kasus ini, Kompas.com berulang kali menemui kegagalan. Sambungan telepon Kompas.com ke Humas RS Awal Bros tidak digubris, demikian juga dengan pesan singkat yang dikirimkan. Selain itu, nomor telepon dokter RS pun kini sudah tidak aktif lagi ketika berusaha dihubungi.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang