Gedung Negara Mesir Diserbu Demonstran

Kompas.com - 06/03/2011, 05:06 WIB

KAIRO, KOMPAS.com - Para pengunjuk rasa mengepung gedung-gedung keamanan negara pada Sabtu untuk mencoba mengambil arsip mengenai kependudukan yang disimpan oleh aparat rezim yang dituding melanggar hak-hak asasi manusia, kata para saksi mata.

Insiden-insiden itu terjadi ketika mantan Menteri Dalam Negeri Habib al-Adly, yang mengendalikan kepolisian negara, diadili di kairo atas tuduhan korupsi, kasus pertama yang melibatkan seorang anggota pemerintahan Presiden Hosni Mubarak yang digulingkan.

Ratusan pengunjuk rasa berusaha menyerbu gedung keamanan negara di kawasan Shiekh Zayed, pinggiran Kairo, tempat para petugas di dalam gedung itu melepaskan tembakan untuk membubarkan massa.

"Kami bisa melihat personel polisi di dalam gedung itu membakar arsip-arsip," kata seorang saksi mata.

"Jendela-jendala terbuka dan tumpukan arsip berterbangan," ujar seorang saksi lain kepada AFP melalui telepon.

Pasukan angkatan darat, yang telah menjaga keamanan sejak polisi tak lagi tampak di jalan-jalan ketika unjuk rasa antipemerintah berlangsung bulan lalu, mencegah para demonstran memasuki gedung itu. Di kota Mersa Matrouh, di bagian baratlaut Mesir, para pengunjuk rasa menyerbu kantor-kantor pusat keamanan negara dan menyita dokumen-dokumen sebelum membakar gedung-gedung itu.

Warga masyarakat di kota tepi pantai itu duduk di kafe-kafe memeriksa dokumen-dokumen yang mereka peroleh sebagai bukti atas pelanggaran hak-hak asasi manusia, sementara asap mengepul dari gedung-gedung terdekat, kata seorang saksi mata. Pada Jumat, ratusan orang berkumpul di luar gedung keamanan negara Iskandariah, kota kedua terbesar di Mesir, melemparkan bom molotov dan membakar mobil-mobil polisi.

Sejumlah warga berusaha menerobos ke dalam gedung itu, sementara petugas keamanan di dalam melepaskan tembakan sebelum tentara campur tangan. Para pengunjuk rasa, yang berhasil menggulingkan Mubarak pada Februari I1, menyerukan penutupan badan Investigasi Keamanan Negara (SSI) yang memiliki sedikitnyha 100.000 karyawan dan jaringan informan yang besar, ujar seorang perwira keamanan kepada AFP.

Pada Jumat, Perdana Menteri Essam Sharaf, yang baru diangkat, berjanji akan mereformasi aparat keamanan ketika ia berpidato di hadapan ribuan orang di Bunderan Tahrir, Kairo, yang menjadi pusat aksi unjuk rasa menggulingkan Mubarak. "Saya berdoa Mesir menjadi negara bebas dan aparat keamanannya akan melayani warga negaranya," kata Sharaf.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau