East Java's Workers Prefer to Stay in Tunisia

Kompas.com - 07/03/2011, 04:24 WIB

SURABAYA, KOMPAS.com - Most of migrant workers from East Java preferred staying in Tunisia to joining the government-sponsored temporary evacuation, a government official said.

"We cannot force them to return home. What we can do is only facilitating them," Head of East Java Province’s Workforce Transmigration and Population Division Hary Soegiri said here Sunday.

The Indonesian Manpower and Transmigration Ministry had recorded that there were at least 300 Indonesian migrant workers in Libya. About 90 of them were from East Java, he said.

Due to the dangerous situation in Libya, they had been flown out of Libya to Tunisia. However, most of 90 Indonesian workers from East Java preferred staying in Tunisia to returning to Indonesia while waiting for the normalcy in Libya, he said.

"Most of them do not want to be evacuated to Indonesia. Instead, they choose to stay in Tunisia for the time being," he said.

They believed that Libya’s political turmoil and instability would not be too long. Therefore, they preferred staying in Tunisia instead of returning to Indonesia.

The Indonesian government had also confirmed that it could not force Indonesian citizens evacuated from Libya and currently sheltered in Tunisia to be repatriated.

Presidential spokesman Teuku Faizasyah said on March 2 that "the government cannot force them to do what is best for them. But at least, they have moved from the conflict area to a stable country."

Faizasyah said the government would in the end let them follow their conviction to stay in Tunisia and provide them with accommodations. The evacuation of Indonesian people from Libya and their being sheltered in Tunisia was a kind of protection from the Indonesian government because their daily needs and facilities would be met by the government.

"If they think they are safe in Tunisia, it is because of well-planned consideration and evaluation," he said.

At least 6,000 people had reportedly been killed in a civil war that broke in Libya following strong calls of the anti-government demonstrators for President Moammar Khadafi’s resignation. The political upheaval in Libya itself is believed to be part of the domino effect of pro-democracy movement in Egypt, which successfully toppled Egyptian President Hosni Mubarak.

However, Moammar Khadafi himself had reiterated that he would not meet the anti-government demonstrators’ demand for his resignation. Instead, he had declared a firm stance in a recent address to the nation that he would remain in power.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau