Bawa Tas Sendiri Saat Belanja!

Kompas.com - 07/03/2011, 08:27 WIB

KOMPAS.com — Setiap orang dari berbagai negara sudah merasakan sendiri pengaruh perubahan iklim ekstrem dan pemanasan global. Isu lingkungan seperti ini jangan dianggap berat karena Anda tentunya juga merasakan perubahan yang tak lagi membuat bumi nyaman. Lihat saja bagaimana cuaca tak menentu, polusi semakin merusak kesehatan, dan bencana alam yang semakin mengancam. Tak terasa, apa yang kita lakukan setiap harinya, menggunakan kantong plastik dan membuang sampah rumah tangga yang tak didaur ulang, semakin mengikis hijaunya bumi dan mencairnya es di kutub utara.

Setiap orang bisa berbuat sesuatu untuk menyelamatkan bumi sebagai tempat tinggal anak cucu nanti. Mulai saja dari rumah, dari hal sederhana, dan dari kebiasaan sehari-hari. Seperti tak lagi menggunakan styrofoam sebagai wadah makan, mengganti kantong plastik dengan tas belanja, membawa alat makan-minum dari rumah agar bisa diisi ulang, hingga membawa wadah makanan dari rumah saat akan belanja daging di supermarket juga bisa Anda lakukan.

Inilah pesan yang ingin disampaikan Tupperware Indonesia dalam gerakan peduli lingkungan dan kesehatan tubuh dengan membiasakan gaya hidup ramah lingkungan. Prinsip reduce dan reuse menjadi aksi nyata dalam kampanye "Gaya Hidup Sehat" yang diluncurkan Tupperware di awal 2011 ini.

"Prinsip dua 'R', reduce dan reuse, ingin kami sebar luaskan, sekaligus mengajak orang lain untuk melakukan sesuatu dalam kehidupan sehari-hari secara nyata. Reduce bisa dilakukan secara nyata dengan mengurangi pemakaian kemasan plastik sekali pakai, plastik yang lama terurai. Prinsip reuse bisa dilakukan dengan membawa wadah sendiri dari rumah, dan bisa dipakai berulang untuk mengurangi sampah. Bayangkan saja, sampah dari satu styrofoam yang digunakan sebagai wadah makanan baru akan terurai 500 tahun kemudian. Sampah kalau tidak ditangani dengan baik dan benar akan menimbulkan masalah," jelas Nining W Permana, Managing Director PT Tupperware Indonesia, saat temu media di Tupperware Home Jakarta, beberapa waktu lalu.

Selalu membawa tas atau wadah saat belanja
Mengurangi wadah sekali pakai menjadi langkah sederhana yang bisa dilakukan siapa saja untuk menyelamatkan bumi. Coba hitung dalam sehari, berapa kali Anda berbelanja dengan kantong plastik atau membeli minuman kemasan plastik dan makanan dengan wadah styrofoam? Gaya hidup yang ingin serba-instan dan praktis membuat kita menyumbangkan sampah pada bumi.

Nining menggambarkan, jika satu orang di Jakarta per hari menghasilkan 0,8 kg sampah, maka akan tertumpuk 6.000 ton sampah setiap harinya. Sampah ini termasuk kemasan plastik dan berbagai produk yang membutuhkan waktu lama untuk terurai. "Mudah saja bagi kita membuat bumi kotor, lantas apa yang bisa kita lakukan untuk menyelamatkan lingkungan?" tukasnya.

Dengan membawa wadah makanan dan tas belanja sendiri saat berbelanja, Anda berkontribusi untuk mengurangi sampah plastik. Anda mengurangi kantong kresek yang hanya bisa terurai 12 tahun, plastik air mineral kemasan yang terurai dalam 20 tahun, atau bahkan kantong kertas yang terurai 2-6 bulan setelah dipakai.

Duta lingkungan Kementerian Lingkungan Hidup, Valerina Daniel, mengakui bahwa kebiasaan membawa tas belanja sudah dijalankannya sejak 2007 lalu. "Awalnya memang sulit menerapkan gaya hidup baru, namun sepanjang pengalaman saya, rasanya siapa pun bisa mengikuti cara ini. Yang perlu dilakukan adalah disiplin diri membawa tas belanja. Sekarang, kan, banyak tas belanja besar yang bisa dilipat kecil dan dimasukkan dalam tas sehari-hari untuk bekerja," paparnya.

Namun memang, diakui Valerina, kebiasaan membawa wadah makanan saat berbelanja belum menjadi budaya. Meski begitu, sudah waktunya mencoba gaya hidup hijau. "Tak sulit sebenarnya membawa wadah makanan saat akan berbelanja di supermarket, untuk mengurangi kantong kresek," tutur ibu satu anak ini.

Disiplin diri penting  untuk menerapkan gaya hidup hijau
Disiplin diri menjadi kunci jika ingin mengubah gaya hidup menjadi lebih ramah lingkungan. Apalagi di Indonesia belum ada pembatasan tegas mengenai penggunaan plastik. Pengalaman Valerina tinggal di Australia memberikan wawasan padanya bahwa negara kanguru tersebut lebih mendukung gaya hidup hijau.

"Di Australia kalau mau pakai kantong plastik harus bayar, sekitar 10 sen sampai 1 dollar. Perlu gerakan bersama jika kebijakan ini juga ingin diterapkan di Indonesia," katanya.

Ia berkisah pula bahwa air kemasan plastik juga dikurangi di Australia, karena jika ingin minum air mineral, warga cukup mendatangi water fountain yang tersebar di ruang publik. Dengan begitu, kebiasaan membawa wadah dari rumah juga bisa dijalankan karena bisa mengisi ulang air di mana saja. "Sampah dari satu botol kemasan menghasilkan 800 gr karbon dioksida. Indonesia adalah negara penghasil emisi terbesar di dunia setelah Amerika dan China," kata Valerina.

Jika pun kondisi di Indonesia belum memungkinkan untuk mengurangi penggunaan air botol kemasan, Anda bisa membayar sampah yang terbuang dengan menanam pohon. Demikian saran Valerina yang menulis 350 tips menerapkan gaya hidup hijau dalam bukunya, Easy Green Living.

Kebiasaan merusak bumi yang berasal dari gaya hidup modern perlu dikurangi. Jika tak satu pun langkah sederhana dilakukan satu individu saja, jangan berharap generasi mendatang memiliki warisan bumi yang layak ditinggali. Ini mengingat, jelas Valerina, kegiatan manusia, pembangkit listrik dengan batu bara dan minyak bumi, ketidakpedulian dengan membiarkan atau membakar sampah membuat panas bumi semakin tinggi. Gas metan dari sampah yang menumpuk memengaruhi kesehatan jika dihirup.

"Jika tak ada skema global untuk penurunan emisi global, maka temperatur rata-rata bumi naik 1,8-4 derajat celcius," katanya berbagi informasi sepulang pelatihan bersama mantan Wakil Presiden AS Al Gore di Amerika Serikat, awal Januari 2011 lalu.

Dampak dari ketidakpedulian warga dunia terasa dengan pemanasan global, lanjut mantan Puteri Indonesia Lingkungan 2005 ini. Ia menyebutkan contoh nyatanya seperti salju yang tiba-tiba turun di Australia, cuaca tak menentu di berbagai negara, es di kutub utara yang mencair, dan Indonesia yang diprediksi akan kehilangan ratusan pulau hanya dalam beberapa puluh tahun ke depan.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman Selanjutnya
Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau