Pemilukada dki 2012

Pengganti Foke Harus Figur Publik Kuat

Kompas.com - 07/03/2011, 15:51 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com — Pengamat politik dari Universitas Indonesia (UI), Andrinof Chaniago, memperkirakan, sosok Gubernur DKI Jakarta selanjutnya adalah seorang public figure yang kuat yang mampu mengalahkan Gubernur DKI saat ini, Fauzi Bowo. Ketokohan calon gubernur nantinya akan menjadi penentu dalam bursa pilgub dalam Pilkada DKI tahun 2012.

"Yang bisa mengalahkan dia (Foke) itu ya yang public figure sekali, tapi kalau orang yang dari pemerintahan, ya itu betul-betul dari orang yang menonjol," ungkap Andrinof, Senin (7/3/2011) di Jakarta.

Dia mengatakan, tokoh Jakarta yang populer memang sulit ditemukan. "Maka nanti kemungkinan akan kembali terjadi antara public figure lawan incumbent. Incumbent pasti akan mencalonkan kembali," ujar Andrinof.

Melihat karakteristik pemilih di Jakarta, Andrinof juga yakin bahwa faktor ketokohan calon menjadi sangat berpengaruh dibandingkan asal partai yang mengusungnya.

"Untuk pilgub atau pilpres sudah pasti lebih kuat public figure-nya daripada asal partai. Tapi itu kembali kepada calonnya siapa, kalau tidak bagus, maka yang menang adalah parpol yang punya basis massa fanatik seperti PKS," tutur Andrinof.

Lebih lanjut Andrinof mengungkapkan, sosok Gubernur DKI mendatang haruslah orang yang jujur dan bisa dipercaya. Selain itu, dia menguasai masalah utama yang dirasakan oleh warga Jakarta seperti kemacetan.

"Masalah utama masyarakat sekarang apa? Macet? Nah, itu akan membuat orang tidak suka dengan Foke karena dia yang paling bertanggung jawab terhadap makin parahnya kemacetan di Jakarta," ujar Andrinof.

Dalam Pilkada 2007, pasangan Fauzi Bowo-Prijanto didukung oleh 20 parpol koalisi, kecuali Partai Keadilan Sejahtera (PKS). Fauzi Bowo-Prijanto menang dan mengalahkan duet Adang Darajatun-Dani Anwar, calon yang diusung PKS. Namun, saat ini Foke yang juga anggota Dewan Pembina Partai Demokrat tampaknya sudah tak lagi didukung partainya sendiri.

Hal itu dilontarkan Sekjen DPD Partai Demokrat DKI Irfan Gani. Irfan menyatakan, DPD Partai Demokrat DKI dengan bulat mendukung Ketua DPD Partai Demokrat DKI, Nachrowi Ramli dan tidak lagi mengusung Foke. Parta-partai lain yang sebelumnya mengusung Foke pun mulai meninggalkan mantan Wakil Gubernur di era Gubernur Jakarta Sutiyoso tersebut seperti PDI-P dan Partai Golkar.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Baca tentang
    Bagikan artikel ini melalui
    Oke
    Apresiasi Spesial
    Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
    Rp
    Minimal apresiasi Rp5.000
    Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
    Apresiasi Spesial
    Syarat dan ketentuan
    1. Definisi
      • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
      • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
    2. Penggunaan kontribusi
      • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
      • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
    3. Pesan & Komentar
      • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
      • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
      • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
    4. Hak & Batasan
      • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
      • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
      • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
    5. Privasi & Data
      • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
      • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
    6. Pernyataan
      • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
    7. Batasan tanggung jawab
      • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
      • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
    Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
    Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
    Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
    Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
    Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
    atau