Ini Dia, Viagra dari Racun Laba-laba

Kompas.com - 08/03/2011, 08:59 WIB

KOMPAS.com — Siapa pun tentu akan takut bila seekor laba-laba tiba-tiba menghampiri tempat tidur Anda. Namun, di masa mendatang, laba-laba bisa jadi penolong Anda, khususnya para pria, untuk tetap "beringas" memuaskan pasangan di atas ranjang.

Ya, menurut suatu penelitian yang dipublikasikan Journal of Sexual Medicine, sengatan laba-laba ternyata berpotensi membuat pria tetap "ereksi" selama berjam-jam.  Kini, para ilmuwan tengah berupaya menciptakan obat bagi pria yang mengalami problem disfungsi ereksi.

Laba-laba yang digunakan para ilmuwan tersebut adalah laba-laba dari Brasil dari spesies Phoneutria nigriventer atau juga dikenal sebagai laba-laba tentara, laba-laba pisang. 

"Racun dari Phoneutria nigriventer sangatlah kaya akan beragam campuran molekul. Molekul ini disebut toksin, dan kami sudah meneliti beragam toksin dalam racun ini  dengan beragam aktivitas. Oleh karena itu pula, ketika manusia digigit laba-laba, kami dapat meneliti bermacam gejala termasuk priapism, sebuah kondisi di mana penis bisa terus-menerus ereksi," kata Dr Kania Nunes, fisiolog dari Medical College of Georgia.

Efek samping lain yang dapat muncul adalah kehilangan kendali otot, rasa sakit yang sangat, kesulitan bernapas. Jika korban tidak segera ditolong dengan antiracun, mereka bisa meninggal akibat kekurangan oksigen.

"Tetapi, efek-efek yang tidak biasa juga dapat digunakan untuk mengatasi disfungsi seksual baik pada pria maupun wanita," kata Nunes.

Dalam risetnya, Nunes berhasil memisahkan senyawa penyebab ereksi dari racun. Toksin peptida yang disebut  PnTx2-6 itu kemudian diberikan kepada tikus di laboratorium.  Hewan pengerat ini sebelumnya telah dikondisikan mengalami hipertensi atau tekanan darah tinggi. Pemberian "viagra baru" ini membuat tikus ternyata dapat membuat tikus ereksi dengan normal.

Menurut Nunes, setelah menyelidiki racun lebih lanjut, ia dan timnya mendapati cara kerja racun  laba-laba dalam membuat ereksi berbeda dengan cara kerja obat disfungsi ereksi yang saat ini sudah ada.

"Boleh dibilang kabar baik karena beberapa pasien tidak berhasil ditangani dengan terapi yang ada sekarang. Racun ini bisa menjadi pilihan lain untuk mereka," kata Nunes.

Laba-laba P nigriventer biasa didapati di dekat tanaman pisang di daerah tropis. Laba-laba, yang kakinya bisa memanjang hingga 10 hingga 12 sentimeter ini, sering  berkeluyuran dan menggigit ketika merasa terancam.

Tidak banyak kematian terlaporkan akibat gigitan laba-laba ini. Dari sekitar 7.000 kasus, hanya 10 yang diketahui meninggal.

 

BACA JUGA :  Begini Cara Sel Kanker "Gerogoti" Tubuh

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau