Hama padi

Serangan Padi, Atas Burung, Bawah Tikus

Kompas.com - 08/03/2011, 18:05 WIB

KOTABARU, KOMPAS.com — Puluhan hektar tanaman padi di sebagian wilayah Kabupaten Kotabaru, Kalimantan Selatan, gagal panen atau puso setelah diserang hama tikus dan burung pipit.

"Kami tidak mampu lagi mengantisipasi serangan hama karena sejak padi itu mulai keluar (mbrobot), tikus sudah langsung menyerang dan memotong-motong batang padi," kata Abdul Rahim, petani di Kelumpang Selatan, Selasa (8/3/2011).

Lengkap sudah serangan hama padi pada musim tanam kali ini, di bagian atas padi diserang burung pipit, sementara di bagian bawah batang padi dibabat tikus.

"Terlebih dalam kondisi curah hujan tinggi ini, hama tikus semakin merajalela menyerang tanaman padi di persawahan," ujarnya.

Rohim mengaku pernah beberapa kali mencoba memberikan racun tikus, di antaranya dengan media yuyu (kepiting sawah) yang dipanggang kemudian diisi racun temik, dan memberi umpan klerat yang disebar di jalur-jalur yang sering dilalui tikus.

Namun, usaha tersebut sepertinya sia-sia karena hama tikus yang menyerang tanaman padi jauh lebih besar daripada racun dan klerat yang dipasang para petani di daerah itu.

Hama tikus tersebut menyerang tanaman padi pada malam hari, tetapi pada siang hari tanaman padi itu diserbu ribuan ekor burung pipit.

Jika serangan burung masih bisa dihalau, untuk hama tikus tidak cukup dihalau atau diberi racun semata. Akibatnya, petani yang menanam padi pada lahan seluas tujuh hektar tersebut hanya memperoleh padi sekitar tiga kwintal.

"Idealnya menanam padi seluas tujuh hektar itu mendapatkan gabah kering sekitar 35 ton," tandasnya.

Ia mengaku telah beberapa musim tanam menggunakan benih unggul, seperti Cisadane, Cihearang, dan Cibodas, tapi hasilnya tidak pernah maksimal karena hama tikus tersebut.

Hal yang sama juga dialami Dasim. Tanaman padi milik petani asal Lamongan yang luasnya sekitar tiga hektar itu juga diserang tikus. Selain Rahim dan Dasim, masih banyak petani di Kotabaru yang mengalaami gagal panen.

Menurut mereka, pemberantasan hama tikus tidak dapat dilakukan secara individu oleh petani yang serba dalam keterbatasan itu, tetapi harus dilakukan bersama-sama dan dibantu Pemkab Kotabaru, dalam hal ini dinas pertanian.

Kepala Dinas Pertanian Kotabaru H Zuhairil Anwar hingga saat ini belum berhasil dikonfirmasi terkait gagal panen yang dialami warga Kelumpang Selatan.

Sebelumnya, Zuhairil mengatakan, pada musim tanam 2011 dia menargetkan produksi gabah kering panen sebesar 112.000 ton, naik sekitar 5 persen dari target 2010.

"Musim tanam 2010 target produksi gabah kita sekitar 105,28 ribu ton, sedangkan tahun ini ditarget naik sekitar 5 persen atau sekitar 112.000  ton gabah kering panen," katanya.

Sedangkan realisasi produksi gabah kering panen (GKP) 2010 sekitar 93.000 ton dari luas tanam sekitar 26.600 hektar. Target tersebut minus sekitar 6.000-7.000 ton karena curah hujan tinggi. "Kegagalan produksi tahun 2010 menjadi pelajaran untuk musim tanam 2011," katanya.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman Selanjutnya
Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau