JAKARTA, KOMPAS.com — Pencegahan dini terhadap ledakan gas sulit diharapkan dari pengguna elpiji. Pasalnya, kebocoran gas yang terjadi akibat gangguan fungsi katup sulit dideteksi masyarakat awam.
”Pengguna awam tidak pernah tahu apakah katup, regulator, dan cincin karet penyekat mengalami gangguan atau tidak,” kata Ketua Pengurus Harian Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI) Sudaryatmo, Selasa (8/3/2011) di Jakarta.
Regulator yang dikaitkan pada katup melalui sebuah pengungkit rawan goyah. Inilah salah satu penyebab kebocoran tabung elpiji mudah terjadi. Perangkat pengaman tambahan, yaitu penjepit regulator, menurut Sudaryatmo, belum bisa menjamin keamanan. ”Perangkat tambahan yang dijual bebas di pasar belum memiliki standardisasi. Tidak ada rekomendasi dari Pertamina soal itu,” katanya.
Penyebab kebocoran lain yang sulit dideteksi adalah masalah karet penyekat. Cincin karet berfungsi sebagai sekat pencegah kebocoran. Selain karena mutu karet yang kurang memadai, tindakan pengoplosan gas juga penyebab kerusakan karet penyekat.
Pengoplos gas biasanya memindahkan gas dari tabung 3 kg ke tabung-tabung yang lebih besar (12 kg dan 50 kg). Tindakan itu menyebabkan tekanan udara yang sudah diatur regulator bisa melampaui batas. Selain itu, karet penyekat pun mengalami kerusakan. Alhasil, kebocoran gas mudah terjadi.
”Ledakan gas sering diberitakan sebagai ledakan tabung elpiji. Padahal, tabungnya sendiri jarang mengalami kebocoran dan hampir tidak pernah terdengar ada kasus seperti itu,” paparnya. Yang bermasalah, menurut Sudaryatmo, justru perangkat penyalur gas seperti longgarnya regulator dan rusaknya karet penyekat. Hal inilah yang sulit dideteksi masyarakat umum.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang