Cuaca

Perubahan Musim Picu Puting Beliung

Kompas.com - 09/03/2011, 04:42 WIB

Serang, Kompas - Berubahnya pola cuaca dan pola angin pada masa peralihan dari musim hujan ke kemarau dapat memicu terjadinya angin puting beliung di semua wilayah di Banten.

Berubahnya pola cuaca dan pola angin tersebut memengaruhi faktor lokal, seperti terbentuknya awan konvektif cumulonimbus atau Cb.

Prakirawan Stasiun Meteorologi Serang, Eko Widiantoro, mengingatkan hal itu di Serang, Banten, Selasa (8/3). ”Masa transisi atau pancaroba ditandai banyak cuaca buruk karena pola angin berubah dari barat ke timur,” paparnya.

Puting beliung ini memiliki kecepatan di atas 30 knot dengan radius antara 1-3 kilometer dan berlangsung cepat, yakni antara 3-5 menit. Angin puting beliung ini berputar berlawanan arah jarum jam dan memiliki daya angkat yang besar.

Ia menjelaskan, tipe cuaca di bawah ekuator adalah enam bulan basah enam bulan kering. Pada April-Oktober tekanan di Asia lebih rendah dari Australia sehingga angin yang bersifat kering akan mengalir dari Australia. Kondisi ini berpengaruh ke wilayah Indonesia berupa datangnya musim kemarau.

Adanya gangguan daerah bertekanan rendah di sebelah selatan Samudra Hindia belakangan ini juga memengaruhi konvergensi atau pertemuan angin di sebelah selatan Sumatera dan di atas Jawa.

Pertemuan angin ini memengaruhi banyak tumbuhnya awan-awan konvektif akibat penguapan, termasuk awan Cb. Terbentuknya awan Cb itu dapat menimbulkan dampak beragam, bisa berupa hujan deras tiba-tiba atau puting beliung.

Puting beliung ini hanya terjadi pada siang dan sore hari, yakni saat awan matang sehabis terjadinya pemanasan.

Pola cuaca Banten

Awal kemarau di Banten rata-rata terjadi pada akhir April hingga awal Mei. Saat ini, Banten memasuki akhir musim hujan.

Meski saat ini belum memiliki radar cuaca, kata Eko, peranti auto weather system (AWS) yang dipasang di Kecamatan Labuan, Kabupaten Pandeglang, dan Kecamatan Leuwidamar, Kabupaten Lebak, sudah dapat dimanfaatkan untuk mendeteksi dini kondisi cuaca di wilayah Banten sisi selatan tersebut.

Peranti AWS tersebut merekam secara otomatis seluruh unsur cuaca, seperti kecepatan angin, suhu, kelembaban udara, dan tekanan udara.

Berdasar data AWS yang dapat diakses di Stasiun Meteorologi Serang, terpantau bahwa pada Selasa pukul 09.26 terjadi angin berkecepatan 17 knot di Labuan.

Rekaman data ini senada dengan penuturan Agus, warga Pandeglang, yang menginformasikan bahwa pada Selasa pagi berembus angin kencang di Pandeglang.

Menurut Eko, daerah yang terkena terjangan angin kencang akan memiliki tekanan udara yang rendah pada saat kejadian. Pada kondisi itu angin dari tekanan lebih tinggi akan mengisi ke wilayah bertekanan rendah tersebut.

Apabila pola tekanan udara di daerah tersebut lebih tinggi dibandingkan dengan sehari sebelumnya, cuaca hari tersebut diperkirakan lebih cerah.

Demikian pula sebaliknya, kalau tekanan udara lebih rendah, kondisi cuaca biasanya lebih buruk dibandingkan dengan hari sebelumnya. (CAS)

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau