BANGKOK, KOMPAS.com - Thailand didera kenaikan harga alias inflasi. Maka dari itulah, Negeri Gajah Putih pada Rabu (9/3/2011) menaikkan suku bunga acuan untuk kali kelima dalam delapan bulan terakhir.
Bank sentral Thailand meningkatkan suku bunga resmi pinjaman menjadi 2,5 persen, naik dari 2,25 persen sebelumnya. Bank telah menaikkan suku bunga utamanya dengan total 125 basis poin sejak Juli 2010. "Lonjakan harga minyak dan komoditas telah menyebabkan meningkatnya tekanan inflasi," kata asisten Gubernur Bank Sentral Paiboon Kittisrikangwan.
Bank menaikkan prakiraan inflasi untuk 2011 sebesar 0,5 persentase poin menjadi 3,0-5,0 persen. "Tapi kecuali jika kerusuhan politik di Timur Tengah menjadi meluas dan mempengaruhi pasokan minyak global, lonjakan harga minyak dan komoditas tidak akan berdampak signifikan terhadap kelangsungan pemulihan global," kata Paiboon.
Naiknya harga konsumen telah menjadi keprihatinan utama bagi para pembuat kebijakan di seluruh kawasan. Langkah Thailand terjadi sehari setelah bank sentral Vietnam menaikkan dua dari suku bunga pinjamannya dalam upaya untuk mengendalikan inflasi dua digit.
Inflasi Thailand sedikit melambat pada Februari ke tingkat tahunan sekitar 2,9 persen, tetapi pemerintah memperkirakan meningkat di masa datang karena meningkatkan biaya pangan. Thailand menaikkan suku bunga utamanya pada Juli tahun lalu untuk pertama kalinya dalam hampir dua tahun karena ekonomi pulih dari krisis keuangan global dan dampak dari kerusuhan politik yang mematikan di Bangkok pada awal 2010.
Para ekonom memperkirakan langkah lebih lanjut untuk menjaga inflasi. "Pasar tidak terkejut dengan keputusan tersebut dan memperkirakan serangkaian kenaikan dalam waktu dekat untuk menormalkan suku bunga," kata Mayuree Chowvokarn, seorang analis di Kim Eng Securities.
Ekonomi Thailand kembali ke pertumbuhan pada kuartal keempat 2010, berbalik sikap dari resesi teknis singkat didukung ekspor kuat dan konsumsi swasta, data resmi menunjukkan bulan lalu.