Diduga korban kdrt

Bibir Veronika Robek, Pipi Kiri Membiru

Kompas.com - 10/03/2011, 09:33 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com — Veronika Subiyem akhirnya meninggal dunia di Rumah Sakit Sari Asih, Tangerang, Kamis (10/3/2011) dini hari. Veronika meninggal setelah sempat menjalani perawatan di RS Sari Asih. Diduga dia menjadi korban kekerasan dalam rumah tangga (KDRT) yang dilakukan Mutasir, suaminya.

Veronika-Mutasir tinggal di Jalan Peternakan 2, Kelurahan Kapuk, Kecamatan Cengkareng, Jakarta Barat.

Tetangga korban, Margirah, mengatakan kepada polisi, Veronika datang ke rumahnya, Selasa (8/3/2011). Saat itu, Margirah sedang bercengkerama dengan tetangga lainnya, Yuliana.

"Veronika datang ke rumah saya dan mengaku baru saja dianiaya oleh suaminya bernama Mutasir," kata Margirah.

Dalam kondisi terluka, Veronika menceritakan peristiwa kelam yang dialaminya. Para tetangga kemudian melarikan Veronika ke Rumah Sakit Sari Asih, Sangiang, Kota Tangerang. Setelah menjalani perawatan selama lebih dari satu hari, korban mengembuskan napas terakhir.

Menurut catatan polisi, korban terluka cukup parah. Ada luka patah dan bengkak pada bagian rahang kanan, bibir robek, pipi kiri bengkak membiru, kaki kanan dan kiri sakit. Perutnya juga terasa sakit. Kasus kekerasan dalam rumah tangga itu dilaporkan ke Kepolisian Resor Metro Jakarta Barat. Pelaku penganiayaan, Mutasir, masih dalam pengejaran petugas.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau