Dokter-Pasien: Hubungan yang Menyembuhkan! (1)

Kompas.com - 10/03/2011, 11:06 WIB

KOMPAS.com -  Begitu saya melangkahkan kaki di ruang perawatan penyakit dalam, dari tempat tidur paling ujung, dekat jendela, seorang pasien langsung bangun, duduk, sambil setengah berteriak, “Nak dokter, saya dok, Pak Katimin, pasien dokter”. Mendengar itu, sedikit agak kaget, saya melihat ke arah suara yang memanggil itu. Oh ya, beliau “Pak Katimin”, pasien saya yang berobat terakhir kira-kira satu tahun lalu.

“Katimin”, sebuah nama yang sudah jarang kita jumpai sekarang. Nama yang sangat khas dari etnis jawa, khusunya Jawa Tengah. Bagi saya nama ini juga sudah sangat familiar, beliau adalah pasien saya yang sudah berusia lanjut, lebih dari 85 tahun. Lebih kurang sejak 10 tahun lalu beliau selalu berobat dengan saya karena keluhan sesak nafas, hipertensi, dan pembesaran prostat.

Seketika saya melihat Pak Katimin yang masih saya ingat dengan baik wajahnya itu, agak bergegas saya menuju ke tempat beliau. Dari balik wajahnya yang sudah keriput, saya lihat ekspresi senang, gembira dan juga keheranan, seolah-olah tidak percaya, mungkin tidak percaya akan bertemu saya lagi.

Sambil menepuk-nepuk dan memijet pundaknya. Beberapa lama saya terdiam, kemudian saya bertanya, “Ada apa bapak? Kenapa bapak sampai kesini? Apa yang bapak rasakan?” Dengan suara pelan, dan agak terputus-putus—mungkin karena sesak— , beliau menjawab: “saya sakit nak dokter—- bapak ini kalau memanggil saya, “nak dokter”— saya batuk dan nafas saya sesak sekali, berbaringpun saya sesak nak”. Bapak tidak berobat? “Tidak nak, tapi saya ada ke tempat praktik nak dokter beberapa kali, setiap saya ke sana nak dokter tidak ada. Terakhir waktu saya ke sana, ada yang memberitahu bahwa nak dokter sudah pindah”, jawab beliau.

Cukup lama saya duduk di tepi tempat tidur pasien. Sambil tetap memegang pundaknya, pikiran saya menerawang jauh ke desa tempat beliau tinggal. Suatu desa yang terletak di hilir, di tepi Sungai Indragiri. Untuk sampai ke rumah sakit ini, dengan menaiki sampan/pompong yang bermesin (speedboat), akan memerlukan waktu yang cukup lama, bisa tiga sampai empat jam.

Perjalanan yang sangat melelahkan tidak hanya bagi orang tua yang sakit, saya sendiri pun, yang masih sehat, rasanya tidak akan kuat. Tidak terbayangkan bagaimana susahnya beliau menuruni anak tangga yang curam— apalagi waktu pasang surut— yang hanya dibuat dari kayu bakau, untuk bisa sampai ke sampan/pompong itu. Seakan saya merasakan betapa sakitnya pinggang beliau dengan tulang-tulang yang sudah rapuh itu, ketika harus menghadapi hentakan-hentakan kuat akibat sampan/pompong melawan derasnya arus sungai indragiri.

Alangkah kecewa, dan sedihnya hati beliau, bila saya sebagai dokter yang dipercaya, tidak dapat memberikan yang terbaik untuk beliau. Karena itu setelah selesai visit saya kumpulkan semua perawat dan saya minta mereka untuk juga melayani beliau sebaik-baiknya, dan kalau ada masalah agar menghubungi saya segera.

Setelah dirawat sekitar satu minggu, Alhamdulillah keadaan pasien mengalami kemajuan. Batuk, dan keluhan sesaknya jauh berkurang. Pnumoni, radang paru yang dideritanya juga membaik, dan hipertensi beliau juga terkontrol.  Aneh, saya seolah-olah tidak percaya, “pasien usia lanjut, umur lebih dari 85 tahun, dengan pnemoni bisa membaik?” Padahal secara teoritis prognosisnya sangat jelek, pasien biasanya meninggal.

Saya ingat Deng Xiaoping, Soeharto dan banyak tokoh-tokoh lain yang meninggal karena pnemoni, “apa yang mereka tidak punya?” Sementara Pak Katimin ini hanya seorang petani pengguna kartu Jamkesmas dengan segala macam keterbatasan.

Kesembuhan Pak Katimin ini, seperti menjadi tandatanya juga bagi saya. “Apakah ini yang dinamakan hubungan baik yang menumbuhkan kepercayaan, keyakinan antara dokter-pasien? Apakah hubungan baik ini yang membantu penyembuhan pasien?” Ya, saya kira ini bisa terjadi, di samping kehendak Allah.

Hubungan yang baik, kedekatan antara dokter-pasien merupakan bagian penting dalam proses penyembuhan. Hubungan yang baik ini, menurut penelitian menyerupai efek plasebo. Pengalaman saya setelah puluhan tahun jadi dokter juga menunjukkan hal demikian. Banyak pasien yang merasa sudah sembuh, kalau sudah masuk ruang praktik seorang dokter yang dipercayainya, yang hubungannnya terjalin dengan baik. Keluhan-keluhan yang dirasakan begitu saja akan hilang.

Penelitian juga menunjukkan bahwa luka pascaoperasi lebih cepat sembuh bila operasi dilakukan oleh dokter yang ramah, bersahabat dengan pasien. Harapan hidup pasien kanker juga meningkat bila dirawat oleh dokter yang bersikap ramah, bersahabat, menghargai , dan peduli dengan pasiennya.

Sayang, hubungan baik yang menumbuhkan kepercayaan, keyakinan antara dokter-pasien sudah mulai luntur. Industrialisasi pelayanan kesehatan, kemajuan teknologi kedokteran, berkembangnya spesialisasi-subspesialisasi, sistem renumerasi dokter, sistem dan kualitas pendidikan kedokteran, kesadaran tinggi akan hak-hak pasien, menurunnya moralitas, idealisme sebagian dokter, sebagian dokter yang masih selalu merasa paling tahu, pasien merasa juga mulai pintar, dan perubahan sosio-ekonomi masyarakat lainnya sangat mempengaruhi hubungan dokter-pasien sekarang ini.

Irsyalrusad, Dokter Spesialis Penyakit Dalam. Alumni Fakultas Kedokteran Universitas Gadjah Mada.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau