April, Menbudpar Buka Festival Legu Gam

Kompas.com - 10/03/2011, 12:31 WIB

TERNATE, KOMPAS.com — Menteri Kebudayaan dan Pariwisata (Menbudpar) Jero Wacik direncanakan akan membuka Festival Legu Gam di Ternate, Maluku Utara, pada 1 April dan akan berakhir pada 16 April 2011. "Kami sudah melakukan konfirmasi kepada Kemenbudpar dan sudah ada kepastian Menbudpar Jero Wacik bersedia membuka Festival Legu Gam tersebut," kata Ketua Umum Legu Gam Arifin Djafar di Ternate, Rabu (9/3/2011).

Festival Legu Gam adalah pesta rakyat yang digelar setiap tahun oleh Kesultanan Ternate dalam upaya untuk memeriahkan ulang tahun Sultan Ternate Mudafar Syah. Kegiatan yang digelar tahunan di Ternate ini telah masuk dalam kalender kegiatan wisata nasional sehingga ajang promosi lebih diutamakan.

Panitia Festival Legu Gam juga melayangkan undangan ke kedubes negara sahabat di Jakarta untuk hadir dalam festival tersebut. Namun, sejauh ini belum diperoleh kepastian mengenai kedatangan mereka pada pembukaan itu. Ajang tersebut akan dimeriahkan dengan berbagai penampilan atraksi budaya dan kesenian tradisional Malut, pameran, serta menggelar seminar budaya.

Keliru

Menyinggung soal adanya kesan penyelenggaraan Festival Legu Gam selama ini lebih menonjolkan kegiatan perdagangan, Arifin yang juga Wakil Wali Kota Ternate mengatakan kesan itu keliru. Dari seluruh kegiatan dalam penyelenggaraan Festival Legu Gam selama ini, termasuk pada Festival Legu Gam tahun ini, sekitar 80 persen justru berupa kegiatan promosi budaya dan kesenian tradisional.

Sementara, untuk kegiatan yang bersifat perdagangan dalam festival itu hanya mencapai 20 persen, karena di dalam areal pameran, panitia menyiapkan sejumlah lahan bagi para pedagang menengah ke bawah. Kesan tersebut muncul karena kegiatan dalam penyelenggaraan festival ini kurang tersosialisasi dengan baik. Untuk itu, panitia akan lebih mengintensifkan sosialisasinya agar kesan seperti itu tidak ada lagi.

Menurut catatan, Legu Gam atau pesta rakyat berasal dari tradisi adat istiadat Maluku Utara. Secara historis pesta rakyat yang melibatkan pihak kerajaan/kesultanan ini dilakukan dalam bentuk tari-tarian atau biasa disebut Tarian Legu.

Tarian Legu biasanya dipentaskan dalam tiga acara dan ketiganya pun bertingkat sifatnya. tarian ini merupakan rangkaian gerakan yang menyerupai kepakan sayap burung. Menurut legenda, tarian ini merupakan simbol dari turunnya burung berkepala dua (Goheba) yang menjadi simbol kesultanan Moloku Kie Raha (Ternate, Tidore, Jailolo dan Bacan).

Para penari adalah kaum perempuan yang bukan berasal dari keluarga Sultan. Pada saat tarian Legu dipentaskan, Sultan tidak diperkenankan berdiri sebelum Tarian Legu berakhir. Hal ini bertujuan agar pesan-pesan yang disampaikan dapat dipahami, dihayati, dan menjadi bahan introspeksi Sultan dalam menjalankan kepemimpinannya.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau