Penelitian

Pendidikan Tak Padu dengan Dunia Kerja

Kompas.com - 10/03/2011, 18:34 WIB

MALANG, KOMPAS.com - Kementerian Pendidikan Nasional (Kemendiknas) menyelenggarakan penelitian keterpaduan pendidikan tinggi bekerjsama dengan sejumlah perguruan tinggi negeri dan perguruan tinggi swasta (PTN/PTS) di sejumlah daerah. Terungkap, terjadi ketidak paduan antara dunia usaha dan pendidikan.

Koordinator penelitian untuk wilayah Malang (Jawa Timur) Aldon Sinaga mendapati, riset yang dilakukan sejak September 2010 dan kini memasuki tahap riset kwalitatif , dan hasilnya sudah dapat diketahui, terjadi ketidak paduan antara dunia usaha dan pendidikan.

Ini bermula dari keyakinan pemerintah, bahwa pemerintah telah menyelenggarakan penelitian ilmiah, yang pada akhirnya hasilnya hendak ditujukan dikonsumsikan pada dunia usaha. Dukungan dalam bentuk dana-dana penelitian itu tujuannya agar pada akhirnya bisa dinikmati hasilnya dalam bentuk penguasaan teknologi, melalui kompetensi (keterampilan) karyawan baru hasil pendidikan perguruan tinggi terkait," kata Aldon.

Jadi, lanjut dia, diseminasi hasil dan dukungan penelitian tidak diberikan langsung pada dunia usaha, melainkan lewat hasil pendidikan.

"Namun pertanyaannya, apakah hasil pendidikan tinggi terkait dengan dunia usaha, atau tidak," ungkap Aldon di Malang, Kamis (10/3/2011).

Menurut Aldon, tim risetnya menemukan ketidakselarasan itu. Ada lowongan pekerjaan yang diantri oleh ribuan pelamar, juga ada lowongan kerja yang sama sekali tidak berhasil mendapat pelamar.

Banting stir

Namun, kendati belum mengungkapkan detil kwantitatif karena risetnya masih dalam proses, ia mengungkapkan ditutupnya SMK Peternakan, yang semula bernama SNAKMA (Sekolah Peternakan Menengah Atas) di Kecamatan Dau, Kabupaten Malang. Terungkap, bahwa kebutuhan tenaga kerja di lingkungan koperasi susu dan peternakan sapi perah, masih cukup tinggi.

"Malang sampai sekarang bersama Pasuruan masih merupakan sentra sapi perah penting bagi industri pengolah susu. Ada tiga koperasi besar susu sapi perah. Jika diasumsikan masing-masing beranggotakan 500 anggota, dan setiap anggota memiliki enam ekor, ada 3.000 ekor sapi tiap koperasi atau 9.000 ekor sapi di tiga koperasi. Ada lebih banyak lagi koperasi susu, yang memerlukan tenaga lulusan Snakma," katanya.

Suyono, pengurus Koperasi Susu SAE Pujon, Kabupaten Malang mengungkapkan ketidakpuasan atas kinerja sarjana peternakan. Sebaliknya, ia juga mengungkapkan ketidakpuasan yang dialami sarjana peternakan yang bekerja di lembaganya.

"Ini karena sebenarnya kami hanya memerlukan alumni SMA Peternakan atau Diploma, namun yang melamar sarjana peternakan. Si sarjana tidak puas karena gaji tidak cukup besar, sebab yang dikerjakan memang jenis pekerjaan luusan SMA," ungkap Suyono, yang menghadiri acara Focus Group Discussion (FGD) oleh Universitas Tribhuwana Tunggadewi, Malang, Kamis (10/3/2011).

Saat ini menurut versi pemerintah, kata Aldon, ada 9 juta penganggur terbuka, yang sebanyak 14 persen di antaranya adalah alumni pendidikan tinggi setara diploma, dan 17 persen alumni setara sarjana. Penelitian ini menyiratkan adanya kesenjangan antara jumlah lulusan dengan jumlah kebutuhan kerja.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau